Tak Ada Lagi Kita

Asri Lestari
Chapter #1

Prolog

Siang itu begitu terik, namun aku terus mengayuh sepedaku sekuat tenaga. Jalanan berdebu dan panas membakar kulit, tapi aku tak peduli. Yang ada di kepalaku hanya satu—aku harus menemuinya sebelum terlambat.

Begitu sampai, kulempar begitu saja sepeda bututku ke area parkir yang sepi. Nafasku memburu. Mataku langsung tertuju pada jam besar di depan stasiun.

"Masih ada dua puluh menit," gumamku lega.

Tanpa pikir panjang, aku bergegas ke loket dan membeli tiket masuk ke peron. Dari pengeras suara, terdengar panggilan bagi penumpang yang akan menaiki kereta tujuan Jakarta.

"Semoga belum berangkat," doaku dalam hati, seiring langkahku yang berubah menjadi lari kecil.

Aku berlari menyusuri peron, mataku menyapu gerbong demi gerbong. Akhirnya kutemukan kereta itu—siap berangkat, namun pintu-pintunya masih terbuka. Kereta belum sepenuhnya penuh. Bergegas aku naik, berlomba dengan para penumpang lain. Langkahku tergesa menapaki lorong hingga terhenti di depan satu kursi. Dia ada di sana.

“Untung masih sempat,” batinku dengan dada berdebar.

“Danu!”

Wajah cantiknya tampak terkejut, mata bulatnya membelalak saat melihatku.

“Sedang apa kamu di sini?” tanyanya pelan, nyaris tak terdengar.

Aku menatapnya dalam, lalu kata-kata itu lolos begitu saja.

"Kenapa tidak bilang kalau kamu mau pergi?" Suaraku pecah. Tak bisa lagi kutahan semua yang mengendap—marah, sedih, kecewa, dan rindu. Semua bercampur menjadi satu.

Peluit panjang terdengar di luar. Tanda kereta akan bergerak.

Seorang wanita paruh baya di sebelahnya menyentuh lenganku pelan. “Nak Danu, kereta sudah mau berangkat.”

Lihat selengkapnya