"Di sini? Di Bali maksudmu?" tanya Mas Bayu dengan nada tak percaya.
"Iya. Ana membuat janji dengannya untuk membicarakan urusan bisnis. Nanti kukirimkan lokasinya. Berangkatlah sekitar tiga puluh menit lagi dari sana. Kami harus menyelesaikan urusan pekerjaan terlebih dahulu," jelasku, berusaha tenang dan tegas.
Aku tahu betul, tanpa penjelasan itu, Mas Bayu pasti langsung meluncur ke lokasi begitu menerima alamat yang kukirimkan. Tapi tidak mungkin aku mencampuradukkan urusan pribadi dan pekerjaan di hadapan Ana—bisa-bisa dia marah.
Setelah panggilan ditutup, aku kembali ke meja dan duduk di kursi kosong di samping Ana. Hatiku lebih lega sekarang. Aku sudah siap membicarakan proyek ini dengan tenang. Ujian sebenarnya bagi profesionalitasku baru saja dimulai.
Ana sedang sibuk mencatat sesuatu di buku kecil yang selalu dibawanya ke mana pun pergi. Stevani pun tampak melakukan hal yang sama, fokus pada tablet yang ada di depannya.
Melihat keduanya tenggelam dalam kesibukan masing-masing, aku bertanya perlahan, "Ini minumanku, kan?"
Ana mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatannya.
Sepertinya aku harus menunggu sampai mereka selesai sebelum mendapat penjelasan lengkap tentang proyek ini. Sementara itu, kunikmati saja segelas jus alpukat tanpa susu yang sudah dipesankan Ana. Sambil menyeruput pelan, aku membalas pesan-pesan Mas Bayu yang rupanya masih diliputi rasa penasaran.
"Jadi begini, Bang."
Suara Ana yang tiba-tiba terdengar membuatku sedikit terlonjak. Spontan, ponsel yang sedari tadi kugenggam langsung kumasukkan ke saku celana. Rasanya seperti murid yang tertangkap basah sedang main gim saat guru menjelaskan pelajaran. Padahal aku tidak sedang berbuat salah. Kenapa malah panik?
"Maaf, ya. Pasti aku ngagetin kamu," kata Ana sambil menahan tawa—yang kulihat hampir meledak dari mulutnya.
Stevani hanya tersenyum tipis, memperhatikan kami dengan tenang.