Tak Ada Lagi Kita

Asri Lestari
Chapter #6

Bab 5. Penjelasan

Malam ini, kamar kosku yang berukuran 4x6 meter terasa begitu sendu. Lagu "Bila Rasa Ini Rasamu" yang dinyanyikan oleh Kerispatih terus-menerus mengalun dari komputer di atas meja kerja di sudut ruangan, bergantian dengan "Separuh Jiwaku Pergi" yang dibawakan oleh Anang Hermansyah. Derasnya hujan di luar jendela semakin menambah kesan dramatis dalam ruangan ini.

Di sofa yang berada di depan televisi, Mas Bayu duduk diam menatap layar yang gelap. Kakinya terlipat di depan dada, dagunya bersandar di atas lutut. Ia sudah berada dalam posisi itu selama kurang lebih satu jam, usai menyalakan musik di komputerku sesaat setelah dia tiba.

Aku hanya bisa memandangi pucuk kepalanya sesekali dari tempat tidurku yang berada di belakang sofa. Dia belum banyak bicara, padahal aku sudah sangat penasaran. Satu-satunya jawaban yang kudapat saat menyambutnya tadi hanyalah, “Nanti dulu, ya.”

Akhirnya, aku memilih untuk bermain gim di ponsel, mencoba mengisi waktu sambil menunggu Mas Bayu merasa siap untuk bercerita.


"Bila rasaku ini rasamu...

Sanggupkah engkau menahan sakitnya, terkhianati cinta yang kau jaga...

Coba bayangkan kembali

Betapa hancurnya hati ini, kasih...

Semua telah terjadi."


Lirik lagu Kerispatih itu kembali melintas di telingaku. Entah untuk yang keberapa belas kalinya. Hanya dua lagu itu dan suara gim dari ponselku yang memecah keheningan malam yang dingin ini.

"Aku rindu Azka."

Tiba-tiba terdengar suara Mas Bayu di sela bunyi-bunyian yang bergema di dalam kamar. Aku pun bangun dari posisi berbaring dan duduk di atas kasur. Menunggu kalimat berikutnya. Namun sepuluh menit telah berlalu, dan tak ada satu kata pun yang menyusul dari bibirnya.

Azka adalah putra semata wayang Mas Bayu yang dibawa pergi oleh Stevani lima tahun lalu. Saat itu usianya baru tiga tahun. Entah di mana dia sekarang. Semoga saja dia juga berada di Bali bersama Stevani, agar Mas Bayu bisa segera bertemu dengannya. Walaupun kami tidak tahu apakah Azka masih akan mengingatnya, setidaknya sebuah pertemuan bisa mengobati sedikit saja rasa rindunya.

Lihat selengkapnya