"Nah, syarat itulah yang ternyata menjadi sumber segala masalah ini. Stevani menikah denganku satu bulan setelah wisuda, dengan syarat aku harus mengizinkannya melanjutkan S2 jika berhasil mendapatkan beasiswa. Aku setuju, tanpa benar-benar memahami seberapa tinggi mimpinya.”
Mas Bayu menghentikan ceritanya sejenak. Tangannya meraih remot dan mematikan televisi yang sejak tadi menyala tanpa ditonton.
“Waktu itu dia sempat mengajakku mendaftar beasiswa bersama. Kupikir dia hanya mengincar universitas dalam negeri, tapi ternyata tujuannya Eropa. Aku merasa itu terlalu jauh, terlalu lama—jadi aku tak menyetujuinya. Tapi diam-diam, dia tetap mendaftar. Dan ketika akhirnya diterima, dia merasa aku telah mengingkari janji kami.”
Aku yang semakin penasaran bangkit dari tempat tidur, berjalan ke arah sofa tempat Mas Bayu berbaring. Kutarik bantal duduk yang menyelip di punggungnya, lalu merebahkan tubuh di karpet di bawah sofa. Kutatap wajah Mas Bayu lekat-lekat. Wajah itu tampak bingung, penuh tanya, namun tak lagi sekelam sebelumnya.
Tiba-tiba pikiranku melayang pada Anjani. Gadis cantik yang meninggalkanku begitu saja di Stasiun Tawang, sepuluh tahun yang lalu.
Andai aku bisa menemuinya, mendengar langsung alasan kepergiannya, apakah rasa sakitku akan sembuh? Atau justru semakin meradang?
Pikiranku kembali dari lamunan mendengar suara Mas Bayu.
“Tadi siang dia menangis saat kami berbincang,” ucap Mas Bayu pelan. “Betapa kecewanya dia padaku karena aku tak mendukung mimpinya. Padahal, dia sudah mendukungku sepenuh jiwa dan raga untuk mewujudkan impianku membangun event organizer.”
Mas Bayu mengubah posisinya, dari berbaring menjadi duduk tegak di sofa. Ia sekali lagi menatap kosong ke arah layar gelap televisi.
“Dia ingin kami berdua sama-sama meng-upgrade ilmu. Supaya bisa mengembangkan bisnis ini bersama.”
Mas Bayu menunduk sejenak, lalu melirikku.
“Menurutnya, menimba ilmu di negara yang lebih maju daripada Indonesia akan jauh lebih bermanfaat. Dia percaya, EO kami tetap bisa berjalan, bahkan jika kami harus memantau dari luar negeri, selama struktur dan sistemnya sudah solid seperti saat dia tinggalkan.”