"Selamat pagi!" sapa Ana ceria begitu memasuki lobi kantor.
Aku yang duduk di sofa menghadap pintu masuk hanya melempar senyum simpul padanya.
“Selamat pagi, Mbok!” sahut Komang tak kalah ramah dari balik meja resepsionis.
Komang adalah pegawai kami yang bertugas sebagai resepsionis, merangkap marketing dadakan. Di perusahaan kecil seperti ini, sudah lumrah jika satu orang memegang banyak peran. Bukan pembelaan diri, tapi realitanya memang begitu.
Dia adalah gadis Bali yang ramah dan manis. Pandai berbahasa Inggris dan senang berinteraksi dengan siapa saja. Karena itulah, ia begitu menikmati pekerjaannya sebagai wajah pertama yang menyambut setiap tamu kantor kami. Ia sangat cocok dengan Ana—mungkin karena karakter mereka yang mirip dan usia yang tak terpaut jauh. Jika ada Komang, apalagi ditambah Ana, suasana kantor tak pernah benar-benar sepi. Selalu saja ada celoteh dan tawa yang mengisi ruang.
"Mbok Ana," begitu Komang biasa memanggilnya. "Mbok" adalah sapaan untuk kakak perempuan dalam budaya Bali, setara dengan "mbak" dalam budaya Jawa. Jadi, bukan "mbok" seperti dalam istilah "mbok jamu" yang sering kita dengar.
Ana yang baru saja datang langsung "nongkrong" di meja resepsionis. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi dari tempatku duduk yang terdengar hanyalah tawa riang mereka yang berderai.
Menatapnya saja sudah cukup membuat pagiku lebih cerah—apalagi dengan aroma kopi dari cangkir di hadapanku yang masih mengepul pelan di udara.
"Tumben pagi-pagi sudah muncul di sini?" tanyaku pada Ana saat ia meninggalkan Komang dan duduk di sampingku.
"Ada tawaran pekerjaan yang ingin kusampaikan ke Abang," ujarnya sambil mengeluarkan buku catatan favorit dari dalam tas.