Tak Ada Lagi Kita

Asri Lestari
Chapter #9

Bab 8. Pertemuan Kembali

Aku kembali membelah jalanan Kota Denpasar di bawah terik matahari yang menyengat, setelah mendapatkan lokasi pertemuan sore nanti dari Ana. Ada satu tempat yang harus aku kunjungi sebelum ke sana, jadi aku memutuskan untuk meninggalkan kantor lebih awal. 

Ana memintaku membelikan oreo cheese cake di toko kue langganannya. Katanya, anak dari klien kami hari ini berulang tahun, dan dia ingin memberikan sesuatu sebagai kejutan kecil. 

Awalnya aku sempat bingung. Bukankah klien kami ini akan melangsungkan pernikahan? Kenapa sudah punya anak? Tapi aku tak langsung bertanya. Setelah diam sejenak, pikiranku mulai merangkai kemungkinan. 

Mungkin ini pernikahan kedua,” gumamku dalam hati. Dan jika benar, itu menjelaskan kenapa acara yang akan kami tangani nanti katanya hanya sebatas akad nikah dan makan-makan keluarga. Sederhana, tanpa pesta.

Mobil melaju perlahan di antara deretan ruko dan rumah-rumah warga. Sebuah lagu yang sudah sangat familiar mengalun dari speaker. Lagu yang sengaja kucari tahu siapa penyanyinya, setelah pertama kali kudengar di Stasiun Tawang sepuluh tahun yang lalu. Lagu itu berjudul "Aku, Kau dan Kereta," dinyanyikan oleh Jikustik.

"Ini saatnya kita harus mengerti.

Kereta ini kan membawamu pergi.

Dan bila kau sampai di sana,Tak pernah ada lagi kita…"

Lagu itu membawaku kembali pada satu titik dalam hidupku—peron stasiun, teriknya Kota Semarang, suara peluit kereta, dan Anjani yang berkata bahwa tak akan ada lagi kita. Sudah satu dekade berlalu, tapi memorinya tak pernah benar-benar hilang. Ditambah lagi dengan telepon misterius tadi pagi, semuanya kembali mengambang di kepalaku.

Apakah Anjani itu adalah Anjani yang aku cari? Atau hanya kebetulan namanya sama?

Sudah beberapa kali aku menerima klien bernama Anjani, tapi belum ada satu pun yang benar-benar dia.

Kali ini namanya memang benar-benar sama, tapi bisa saja itu masih tetap orang yang berbeda. 

Lihat selengkapnya