“Baru datang, Danu? Yuk masuk dulu!” sapa Stevani sambil berjalan menghampiri Azka yang berdiri tak jauh dariku.
“Sekalian nunggu Ana aja. Katanya sudah dekat,” jawabku sambil tersenyum. Aku menolak halus ajakannya. Rasanya canggung kalau harus masuk ke dalam rumah berdua saja, walaupun ada Azka di sana.
Tak lama kemudian, suara mobil terdengar dari arah belakang. Aku menoleh. Mobil Ana berhenti tepat di belakang mobilku. Jendela sisi pengemudi perlahan diturunkan.
"Sudah datang, Bang?" sapa Ana dari balik kemudi.
"Iya, baru saja," jawabku singkat. Kulihat Ana turun dari mobil dengan penampilan yang seperti biasa—tepat dan memikat. Kali ini dia mengenakan dress merah maroon yang anggun, dengan aksen hitam di bagian pinggang dan lengannya. Hijab yang dikenakannya pun selaras, perpaduan motif abstrak hitam dan merah yang menambah kesan elegan. Tas jinjing hitam bertengger manis di tangan kirinya.
Dia lalu berjalan ke arahku dan menyapa Azka.
"Assalamualaikum, anak ganteng," sapa Ana pada Azka.
"Waalaikumsalam, Tante Ana cantik," jawab Azka spontan. Entah kenapa, aku terkekeh mendengarnya. Ana menoleh cepat dan melemparkan tatapan tajam yang mencoba disembunyikan di balik senyum.
"Pesananku dapat?" tanyanya padaku.
"Oh iya, masih di mobil. Aku ambil dulu." Aku baru teringat pada oreo cheese cake yang sengaja kubeli di toko langganan Ana sebelum datang ke sini. Aku pun berjalan menuju mobil, sementara Ana menghampiri Stevani dan saling berpelukan hangat. Aku sempat berpikir, kenapa ya perempuan sering berpelukan dan cipika-cipiki tiap kali bertemu, seolah tak bertemu bertahun-tahun, padahal mungkin baru kemarin mereka ngobrol lewat telepon.