Tak Ada Lagi Kita

Asri Lestari
Chapter #11

Bab 10. Kabar Gembira

"Papi datang!" teriak Azka sembari berlari ke arah pintu.

Sesaat kemudian, kulihat Mas Bayu masuk ke ruang keluarga dengan Azka sudah berada dalam gendongannya. Pantas saja suaranya begitu familiar. Ternyata dia.

"Hai, Danu. Sudah lama datang?" sapanya ramah.

"Sudah sekitar tiga puluh menit yang lalu, Mas," jawabku singkat sambil tersenyum.

"Jadi kita sudah bisa makan kuenya, kan, Mami?" Azka ikut bersuara. Nampaknya ia sudah tidak sabar mencicipi kue yang sejak tadi memikatnya.

"Hahaha. Baiklah. Mari kita potong kuenya sekarang, ya," kata Stevani sambil melangkah ke dapur. Tak lama kemudian ia kembali ke meja makan dengan sebuah pisau roti di tangan. "Sini, Azka yang potong kuenya," ujarnya sambil menyodorkan pisau kecil ke putranya.

"Foto dulu dong, Azka dan kuenya," sela Ana sambil mengeluarkan ponsel dari tasnya.

Azka pun berpose di depan kue dengan senyum lebar. Ana mengambil beberapa foto, lalu kembali memberi instruksi, "Sekarang foto bareng Mami dan Papi."

Stevani dan Mas Bayu berdiri di kanan dan kiri Azka, dan Ana dengan cekatan mengabadikan momen itu.

"Oke, selesai! Sekarang waktunya potong kue," kata Ana sambil tertawa kecil.

Azka memotong bagian pertama kue dengan semangat. Potongan-potongan berikutnya dilanjutkan oleh Stevani. Ia membaginya menjadi beberapa bagian, lalu menyajikannya kepada kami dalam piring-piring kecil, lengkap dengan sendok. Setelah menerima kue masing-masing, kami pun duduk di kursi makan.

Setelah kue habis, kulihat Ana mengambil semangkuk es buah dari atas meja. Es berwarna cerah itu terlihat segar dan menggoda. Aku pun mengikutinya.

"Makan besarnya mau sekarang atau nanti setelah salat Magrib?" tanya Stevani kepada kami.

"Nanti saja, Kak. Sekarang mau ngemil dulu," jawab Ana sambil menyendok es buah lagi.

"Iya. Sosis solo ini masih menggodaku," jawabku sambil mencomot sebuah sosis solo dari atas meja.

"Baiklah. Kalau begitu kita ngemil dulu sambil membahas acara minggu depan, ya. Biar nanti makannya lebih tenang," sahut Mas Bayu yang duduk di sebelah Stevani.

"Acara minggu depan? Ada apa memangnya?" tanyaku bingung.

Lihat selengkapnya