Tak Ada Lagi Kita

Asri Lestari
Chapter #12

Bab 11. Pernikahan Kedua

"Saaahh!" Teriakan para undangan membahana di taman tropis nan cantik ini.

Di tengah kerumunan, Stevani dan Mas Bayu duduk berhadapan dengan bapak penghulu. Senyum merekah di wajah keduanya, juga di wajah orang-orang di sekeliling mereka. Beradu cerah dengan cahaya matahari yang sebentar lagi berpulang ke peluk cakrawala. Namun, di antara aku dan Ana, kulihat air mata mengalir di pipi Azka.

"Azka, kenapa?" tanyaku pelan. Ana yang mendengar pertanyaanku ikut mengalihkan perhatian kepada bocah kecil itu.

“Tidak apa-apa, Om. Azka cuma senang melihat Mami berkumpul lagi sama Papi,” jawabnya sambil menyeka air mata dengan punggung tangan. “Sejujurnya Azka nggak begitu ingat wajah Papi. Azka cuma kenal Papi dari foto dan cerita Mami. Azka juga sering lihat Mami nangis sendiri sambil mandangin foto Papi malam-malam, pas Azka pura-pura tidur. Azka tahu Mami kangen banget sama Papi.”

Aku tercekat. Tidak menyangka, anak berusia delapan tahun bisa berkata-kata seperti itu. Mungkin keadaan membuat kedewasaan datang lebih awal kepadanya.

“Alhamdulillah, ya. Sekarang Azka kasih selamat, dong, buat Mami dan Papi,” timpal Ana, bijak dan tenang—tepat saat aku kehilangan kata. Azka pun beranjak, menghampiri kedua orang tuanya. Ia mengecup pipi mereka, lalu memeluk erat. Para tamu sontak memberi tepuk tangan meriah.

“Aku cukup takjub dengan kemampuan Bahasa Indonesia Azka,” kataku pada Ana, setelah suasana sedikit reda. “Kupikir dia bakal kesulitan berbahasa Indonesia karena cukup lama tinggal di luar negeri, apalagi saat itu masih balita. Tapi ternyata, Stevani benar-benar mengajarinya dengan baik.”

Sejak pertama kali bertemu Azka, pemikiran itu selalu terlintas di benakku, tapi baru hari ini aku merasa ingin membaginya dengan Ana.

"Iya, betul. Waktu aku bertemu dengan mereka di Eropa, kupikir Azka tidak akan pandai berbicara Bahasa Indonesia, jadi aku menyapanya dengan Bahasa Inggris,” cerita Ana dengan antusias.

“Tapi karena sebelumnya dia mendengar aku berbicara menggunakan Bahasa Indonesia dengan Stevani, dia pun menjawab dalam Bahasa Indonesia. 'Saya bisa berbicara Bahasa Indonesia dengan baik, Tante. Jadi mari kita berbincang dengan Bahasa Indonesia saja,' begitu katanya."

Mata Ana menerawang, bibirnya sedikit terangkat di kedua sudut. Tanda bahwa dia sedang mengenang sebuah momen indah di masa lalu.

"Bagi para tamu undangan, silakan menikmati hidangan yang telah disediakan." Suara MC terdengar dari pengeras suara, tepat saat aku melihat Mas Bayu, Stevani, dan Azka berjalan ke arah kami.

"Foto dulu, yuk," ajak Stevani begitu mereka tiba di hadapan kami. Ia memanggil salah satu fotografer, lalu kami berlima berfoto dalam berbagai pose selama kira-kira lima belas menit. Selesai berfoto, kami dipersilakan makan terlebih dahulu.

"Azka lapar, Mami. Bolehkah Azka makan dulu bersama Om Danu dan Tante Ana?" begitu katanya.

"Tentu saja boleh, Sayang," jawab Stevani sambil mengusap rambut Azka lembut. "Ana, Danu, minta tolong temani Azka dulu, ya. Nanti aku menyusul," pesannya kepada kami.

"Siap, Kak!" sahut Ana sambil mengangkat tangannya ke dahi, menirukan gerakan hormat seperti kepada bendera.

Lihat selengkapnya