Tak Ada Lagi Kita

Asri Lestari
Chapter #13

Bab 12. Aku Harus Kuat

Aku memandangi titik-titik hujan yang mengalir di kaca jendela kafe yang lengang ini. Di depanku, secangkir espresso terus menggelitik penciuman dengan aromanya. Hari ini aku butuh asupan kafeina dosis tinggi karena semalaman tidak bisa tidur. Mata ini lelah setelah seharian sibuk di acara Mas Bayu dan Stevani, namun hati yang gelisah memaksa otak terus berpikir, menolak untuk beristirahat.

Masih terus terbayang di pelupuk mataku wajah gadis yang kulihat di ponsel Bima kemarin sore. Wajah yang tak lagi asing. Wajah yang begitu kurindukan. Wajah yang bertahun-tahun kucari. Wajah Anjani Putri Pratiwi yang ayu dan sederhana.

"Kok melamun!" Seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh dan mendapati Bima berdiri di sampingku.

"Siapa? Aku? Nggak kok, aku nggak melamun," jawabku salah tingkah. Kurasa aku sedikit merasa bersalah setelah semalaman memikirkan calon istrinya.

"Dari tadi aku nyapa, tapi pandanganmu nggak lepas dari kaca jendela. Kalau itu bukan melamun, lalu apa?" Bima tertawa kecil, menggoda. Ia lalu menarik kursi dan duduk di hadapanku.

Sore ini aku kembali datang ke Milestone Coffee untuk membahas pernikahan Bima bersama Mas Bayu, Ana, dan Stevani. Aku sengaja datang lebih awal karena merasa gelisah berada sendirian di kos.

Dalam situasi seperti ini, biasanya aku akan mengajak Mas Bayu menginap dan bermain PlayStation semalam suntuk. Tapi tentu saja tak mungkin kulakukan di hari pernikahannya, bukan? Jadi, aku gelisah sendiri. Meski begitu, Mas Bayu tetap beberapa kali mengirim pesan, menanyakan keadaanku. Sungguh, kakak yang perhatian.

Sudah tiga puluh menit berlalu sejak Bima datang, namun yang lain belum juga tampak batang hidungnya. Aku menyalakan ponsel untuk melihat jam. Ternyata memang masih kurang lima menit dari waktu yang kami jadwalkan. Jadi sebenarnya aku dan Bima yang datang lebih awal, bukan mereka yang terlambat.

Rasanya canggung mengobrol berdua dengan calon suami gadis yang selama ini kupuja-puja dalam hati. Tapi pada akhirnya kami membicarakan banyak hal—kopi, cuaca, hobi, pekerjaan—namun sama sekali belum menyentuh topik pernikahan, apalagi soal Anjani. Seolah itu topik terlarang di antara kami berdua.

Untunglah tak lama kemudian, aku melihat Stevani, Mas Bayu, dan Azka masuk ke dalam ruangan, disusul oleh Ana di belakang mereka.

"Rajin sekali kalian berdua," kata Stevani sambil melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Kami datang tepat waktu, ya. Kalian berdua saja yang terlalu cepat."

"Aku bingung mau ngapain di kos. Jadi ke sini lebih cepat. Biasanya hari minggu kan main sama Mas Bayu. Tapi sekarang, dia udah resmi balik ke pangkuan Stevani Adisty. Jadi jomblo lagi deh aku," kataku sambil melirik jahil ke arah Stevani.

Stevani pun langsung cekikikan disusul yang lainnya.

"Sama. Aku juga bosan di hotel, jadi mending nongkrong di sini," Bima ikut menanggapi.

Mereka berempat pun duduk di kursi-kursi kosong di meja kami, lalu mengeluarkan catatan masing-masing. Bagi pekerja seperti kami, buku catatan adalah benda wajib yang selalu dibawa ke mana pun kami pergi. Di situlah ide-ide penting lahir, dan rencana-rencana besar dirangkai dengan teliti.

Mas Bayu yang duduk di sampingku menyenggol lenganku pelan.

Lihat selengkapnya