Hari itu matahari bersinar cerah, menyiram jalanan Bali dengan kehangatan yang khas. Angin lembut membawa aroma laut dan bunga kamboja yang mulai berguguran di sepanjang trotoar. Kami berkumpul pagi-pagi di lobi hotel tempat Bima menginap, siap melakukan survei ke beberapa vila yang sudah kami seleksi sebelumnya.
Ana menggenggam map berisi daftar lokasi, sementara Bima tampak rapi dalam kemeja linen putih dan celana chino krem. Penampilannya sederhana, tapi cukup membuat orang-orang di sekitar melirik kagum. Mungkin itulah yang membuat Anjani tertarik padanya. Aku berusaha bersikap sewajarnya, menyembunyikan gelombang cemburu di dadaku
"Vila pertama ada di kawasan Seminyak. Lokasinya cukup strategis, nggak jauh dari pantai, dan suasananya tenang," jelas Ana sambil melangkah ke arah mobil yang terparkir di area hotel. Mas Bayu dan Stevani sudah menunggu di sana. Mereka tak ikut ke lobi karena Azka masih tertidur di dalam mobil.
Sepanjang perjalanan obrolan mengalir ringan. Stevani sesekali memberikan ide dekorasi, Mas Bayu membahas layout undangan digital, dan Azka tidur dengan kepala di pangkuan ibunya, napasnya teratur dan damai. Bima duduk di belakang bersamaku. Dia hanya menyimak diskusi sambil sesekali berkomentar pendek. Ana duduk di depan, mendampingi supir keluarga sekaligus menjadi penunjuk arah.
Kemarin, Ana sempat menawarkan agar kami memakai mobil Innovanya saja. Mengingat mobil kami tidak ada yang cukup besar untuk menampung lebih dari lima orang, tawaran itu terasa sangat membantu. Dia juga menyarankan untuk memakai sopir keluarganya, agar kami bisa lebih santai dan tidak kelelahan di jalan—terlebih lokasi vila yang akan kami survei tersebar cukup jauh: satu di Seminyak, satu lagi di Sanur, dan satu di Uluwatu.
Setibanya di vila pertama, kami disambut pengelola properti. Vila itu memiliki halaman belakang yang luas, kolam renang memanjang yang memantulkan langit biru, dan tanaman tropis yang tumbuh subur di sekelilingnya.
"Aku suka tempat ini," kata Stevani sambil mengelilingi kolam. Sepertinya dia mulai membayangkan posisi meja akad dan tempat duduk tamu.
“Aku juga,” sahut Bima. “Suasananya intimate, dan tetap terasa elegan. Anjani pasti suka.”
Kalimat terakhir itu sederhana, tapi menohok tepat ke uluhatiku. Aku hanya diam, berpura-pura mencatat sesuatu di buku kecilku. Kemudian berjalan menjauh, mencari tempat yang lebih teduh. Tempat di mana aku bisa sedikit menenangkan hatiku.
Ana menghampiri. “Tempat ini cantik banget. Cocok sama konsep yang kita bikin. Menurut Abang gimana?”
Aku memandang sekeliling—taman yang rimbun dan tertata, jalan setapak dari batu alam, lampu-lampu kecil yang berjajar rapi, dan kolam renang yang memantulkan cahaya matahari. Di kejauhan, kupu-kupu beterbangan di antara bunga kertas.
“Cocok,” jawabku pelan. “Kita bisa wujudkan hari bahagia mereka dengan sempurna di sini.”
Ana tersenyum setuju, lalu beranjak menghampiri Stevani dan Bima yang sedang berdiskusi di dekat kolam.
Tiba-tiba, Mas Bayu sudah berdiri di sampingku.
"Kamu nggak apa-apa?"
Aku menarik napas dalam-dalam. “Kita sudah sejauh ini. Aku harus sanggup.”
“Kalau butuh teman cerita, kasih tahu. Aku mungkin nggak bisa kasih solusi, tapi kupingku selalu siap dipakai.”
Aku tersenyum kecil. “Makasih, Mas. Eh… Azka ke mana?”
Kami sama-sama menoleh ke sekeliling, dan seketika terdengar suara tawa kecil. Azka berlari-lari di antara pohon palem, mengejar seekor kupu-kupu berwarna biru kehijauan.
“Azka, hati-hati, jangan terlalu dekat ke kolam!” seru Mas Bayu sambil berjalan cepat mengejarnya.
“Tenang, Papi! Aku ninja air! Nggak akan tenggelam,” jawab Azka sambil tertawa.