Jam di ponselku masih menunjukkan pukul 06.00 WITA, tapi aku sudah duduk di salah satu coffee shop di Bandara Ngurah Rai. Secangkir cappuccino menemani pagi ini, dan ini sudah cangkir kedua yang kuteguk.
Semalam aku sama sekali tak bisa tidur. Terlalu gelisah. Aku habiskan malam dengan bermain gim dan menonton film action sendirian. Bahkan sampai sekarang, kantuk pun belum juga datang. Mungkin karena adrenalin yang terus memaksaku terjaga.
Pagi ini bandara tampak ramai. Wajah-wajah dari berbagai penjuru, lokal maupun internasional, silih berganti melintas di hadapanku. Aku masih menunggu Salim, Ana, dan Komang, yang berjanji akan tiba pukul tujuh nanti. Masih cukup lama, sebetulnya. Tapi aku tak sanggup lagi berdiam di kamar kosku yang terasa begitu sempit. Setelah subuh, aku langsung meluncur ke sini. Untungnya, keramaian bandara dan secangkir kopi panas ini bisa sedikit meredakan gelisahku.
Hari ini adalah hari yang sudah lama kutunggu—dan di saat yang sama, ingin kuhindari. Bima akan datang bersama Anjani dan keluarga besarnya. Itulah yang membuat tidurku tak tenang beberapa hari terakhir.
Sebenarnya aku bisa saja menyuruh orang lain untuk menjemput mereka. Tapi hatiku menolak. Bagaimanapun, ini adalah pertemuan yang sudah kunanti selama sepuluh tahun. Tak mungkin aku melewatkannya begitu saja.
Aku mengajak Salim, Ana, dan Komang untuk ikut. Sekadar jadi suporter. Mereka tak tahu apa-apa soal masa laluku dengan klien kami itu. Tapi siapa tahu, kalau nanti aku tiba-tiba pingsan saat bertemu Anjani, masih ada yang bisa membopongku.
Kling! Sebuah pesan masuk ke ponselku. Dari Bima. Dia mengabarkan bahwa mereka sudah akan naik ke pesawat dan segera terbang ke Bali.
Jantungku berdetak semakin kencang. Dua jam lagi aku akan bertemu mereka. Bertemu Anjani.
Perlahan, kusesap lagi kopi di cangkirku, mencoba meredakan gejolak yang masih menyesaki dada. Aku membuka novel yang kubawa, berusaha mengalihkan pikiran dari berbagai skenario yang menari-nari di kepalaku.
Sekitar satu jam kemudian, terdengar sebuah suara menyapaku.
“Selamat pagi, Mas Danu!”
Ternyata Salim. Di belakangnya, Ana dan Komang berjalan berdua sambil tertawa kecil. Pemandangan yang tak asing lagi bagiku.
“Pagi! Duduk, Lim,” kataku sambil menarik sebuah kursi di sampingku. “Mau pesan kopi?”
“Boleh, Mas,” jawabnya singkat. Aku segera memanggil pelayan yang berdiri tak jauh dari meja kasir. Tak lama, secangkir coffee latte panas sudah terhidang di hadapan Salim.
Sementara itu, Ana dan Komang masih sibuk mengobrol di depan coffee shop. Mereka tampak antusias mengamati deretan kartu pos yang dipajang di sana. Sungguh beruntung aku mengajak mereka. Kehadiran mereka membuat pagi yang semula suram terasa sedikit lebih cerah.
Tanpa terasa, sudah lebih dari satu jam berlalu sejak Salim, Ana, dan Komang datang. Sedari tadi kami mengobrol dan bercanda ringan, sama sekali tak menyentuh topik pekerjaan. Pagi ini, meskipun alasan kami berkumpul adalah untuk menjemput klien, aku sedang tidak ingin membahas hal-hal formal. Aku hanya ingin kami menjadi teman, bukan rekan kerja. Karena membicarakan klien hari ini, berarti membicarakan Anjani—dan itu cukup untuk membuat dadaku sesak.
Keseruan kami pagi itu mendadak terpotong oleh dering ponselku. Aku menerima panggilan itu, mendengarkan dengan seksama, lalu memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
"Mereka sudah datang," ucapku dengan nada yang tanpa kusadari sedikit bergetar.