“Saya terima nikah dan kawinnya Anjani Putri Pratiwi binti Sudarmono dengan mas kawin 50 gram emas dibayar tunai.”
Terdengar suara Bima melafalkan ijab kabul dengan lantang dan tegas.
“Sah?” tanya bapak penghulu.
“Saaaah…!”
Seruan para saksi dan tamu undangan menggema dalam kur panjang yang terdengar penuh keyakinan.
Seperti halnya pernikahan pada umumnya, setelah akad nikah terucap, kebahagiaan langsung memenuhi udara. Tawa, senyum, haru, semua berpadu menciptakan suasana yang hangat dan sakral.
Namun tidak untukku. Tidak hari ini. Tidak saat perempuan yang pernah menjadi seluruh duniaku mengikat janji bersama orang lain.
Di saat semua orang bersorak bahagia, hatiku justru tenggelam dalam sunyi yang tak berkesudahan. Seolah dunia ikut berhenti sejenak, membiarkanku sendiri dalam kehampaan.
Kulirik Ana dan Komang di barisan sebelah kiri. Mereka tak bisa menyembunyikan ekspresi bahagia dan antusiasnya. Senyum lebar merekah di wajah mereka, seolah hari ini adalah hari kemenangan.
Stevani tersedu-sedu di bahu Mas Bayu, yang dengan sabar mengelus-elus punggungnya. Entah karena terharu, atau karena memori masa lalu yang tiba-tiba datang menyergap.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencoba mengalihkan rasa sesak yang menggelayuti dada.
Akad nikah pagi ini diselenggarakan di sebuah vila di kawasan Seminyak yang waktu itu sudah kami survey. Acaranya mengusung konsep garden and pool party.
Sebuah meja kayu diletakkan di atas podium rendah yang sengaja dibangun di tepi kolam, menjadi tempat pelaksanaan ijab kabul. Lengkung bunga mawar putih menghiasi podium itu, menciptakan suasana khidmat yang sekaligus romantis.
Meja-meja panjang berisi hidangan tertata rapi di ruangan semi terbuka di samping kolam. Kain-kain lebar bermotif kotak putih-merah dibentangkan di atas rerumputan, dengan pot bunga lili sebagai pemberat di sudut-sudutnya. Bunga lili dan mawar putih juga tersebar di berbagai sudut taman, mempercantik suasana secara alami.
Anjani memang menyukai kedua bunga itu sejak dulu, meskipun favoritnya tetaplah edelweis—bunga yang tumbuh di tempat tinggi dan tak mudah dijangkau. Seperti dirinya.
Di atas kain-kain itu, para tamu undangan duduk santai layaknya sedang piknik di padang bunga. Penuh warna, tapi tetap anggun.