“Halo, Danu. Apa kabar?”
Suara itu lebih mengejutkan daripada petir di siang hari yang cerah.
Aku mengangkat wajah dari layar ponsel yang sejak tadi kugunakan sebagai pelarian. Dan di sanalah dia—Anjani—berdiri di hadapanku, mengenakan gaun selutut berwarna pastel dengan senyum samar yang menggantung di bibirnya.
“Hai,” jawabku, terlalu terkejut untuk merangkai kalimat yang lebih pantas.
“Boleh aku duduk?”
Aku mengangguk dan bergeser ke sisi dalam gazebo. Dia pun duduk di tempat yang kutinggalkan, di sisi gazebo, dekat tiang kayu yang dihiasi lampu temaram.
“Senang bisa bertemu lagi,” Dia mencoba tersenyum. “Maaf... waktu itu aku pergi tanpa penjelasan.”
Aku hanya menatapnya. Tak tahu harus menanggapi bagaimana saat tiba-tiba dia membahas perpisahan itu. Luka lama yang kupikir telah sembuh, terasa hangat kembali.
Sejenak, suasana menjadi sunyi. Lampu-lampu taman bergoyang diterpa angin, menciptakan bayang-bayang lembut di sekitar kami.
“Aku sakit, Danu.” Kalimat itu memecah keheningan. “Itulah alasan aku pindah ke Jakarta.”
Aku tertegun. Berusaha mencerna apa yang baru saja Anjani sampaikan.
"Sakit?" tanyaku dengan nada ragu. Masih tak yakin dengan apa yang aku dengar.
“Iya. Lalu ayahku dipindahtugaskan ke Jakarta, dan beliau memutuskan agar aku ikut. Selain agar lebih dekat dengannya, pengobatan di sana juga lebih maju dibandingkan Semarang waktu itu.”
Aku menatapnya lebih serius. “Kamu sakit apa?”
“Namanya fibromialgia,” jawabnya, seolah menyebutkan sesuatu yang berat.
Aku menelan ludah. Nama penyakit itu asing. Tapi dari cara dia mengucapkannya, aku tahu itu bukan sakit biasa.
“Fibromialgia?”
“Itu penyakit saraf kronis yang menyebabkan nyeri di sekujur tubuh. Rasanya seperti ditusuk-tusuk. Kadang saat tidur, aku terbangun karena kesakitan. Stres, kelelahan, udara dingin, semua bisa memicu nyeri yang tiba-tiba.”
Aku mengernyit, membayangkan bagaimana rasanya.
“Sejak kapan kamu mengalami itu?”
“Setelah pendakian Merbabu, ingat?” katanya sambil menatapku. “Sejak saat itu aku mulai merasa aneh. Tapi kupikir cuma kelelahan biasa. Sampai akhirnya makin parah dan dari situlah semuanya berubah.”
Aku menghela napas. Merasa bersalah karena tak pernah tahu. Karena tak ada di sisinya saat dia butuh. Bagaimana mungkin aku tidak sadar bahwa gadis yang aku cintai sedang sakit?
"Kenapa kamu nggak pernah cerita ke aku?" Rasa penasaran mendadak menyergapku.
"Aku malu, Danu. Rasanya penyakit itu seperti aib bagiku," jawabnya dengan wajah sendu. "Aku tidak sanggup memberitahumu."
"Jadi kamu lebih memilih pergi tanpa penjelasan?"
"Maaf, Danu. Tapi saat itu kita masih muda. Harga diri adalah segalanya."