Tak Ada Lagi Kita

Asri Lestari
Chapter #18

Bab 17. Ketakutanku

“Ada apa ini? Apa yang terjadi? Kapan Anjani pingsan? Kenapa Anjani pingsan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar begitu cepat di kepalaku, seperti badai yang mengguncang isi dadaku. Napasku mulai memburu. Hatiku terasa seperti dicekik oleh rasa takut yang tak bernama.

“Anjani kenapa tadi, Ana?” tanyaku cepat-cepat, berusaha mengembalikan fokus pada dunia nyata.

Ana memandangku dengan alis berkerut, ekspresinya campuran antara kaget dan kecewa. “Abang nggak lihat?” katanya setengah tak percaya. “Sudah kuduga Abang melamun dari tadi.”

“Iya, maaf... Aku sedang memikirkan sesuatu,” jawabku dengan diliputi bersalah.

“Sudah, sudah!” Komang memotong, suaranya gemetar. “Tadi waktu pemotretan, Anjani tiba-tiba lemas, lalu jatuh ke arah Bima."

“Dan aku sempat lihat darah keluar dari hidungnya,” tambah Ana dengan suara bergetar. “Aku nggak tahu pasti, tapi kelihatannya serius.”

Darah?

Kata itu membuatku gemetar. Lututku terasa lemas. Apakah dia sakit parah? Apakah dia akan bertahan? Ya Tuhan, jangan dulu... bisakah Kau beri dia sedikit waktu lagi?

Air mata yang kutahan sejak tadi akhirnya jatuh perlahan menyusuri pipi. Aku memalingkan wajah. Tidak ingin siapa pun melihatku seperti ini. Tapi Ana sudah lebih dulu menyadarinya.

“Abang…” gumamnya, suaranya berubah lembut. “Abang kenapa?”

Aku tidak menjawab. Aku tak sanggup. Aku bangkit dari tempat duduk, melangkah menjauh, menuruni anak tangga menuju tempat parkir seperti orang kehilangan arah. Mobilku tampak di ujung sana. Aku masuk, menyalakan mesin, dan secara otomatis memutar lagu terakhir yang kudengar: "Aku, Kau, dan Kereta"

Lagu itu kembali mengalun, seperti luka lama yang menganga. Tanganku menggenggam erat setir, tubuhku gemetar. Akhirnya aku menunduk, menyandarkan kepala pada lingkaran setir dan tangis itu pecah begitu saja.

***

Aku kembali ke acara beberapa menit kemudian, berusaha menahan sesak yang masih menggumpal di dada. Saat itu, Stevani sudah berdiri di podium, mencoba menjaga situasi.

“Mohon maaf, Bapak, Ibu, dan saudara sekalian,” ucapnya tenang. “Anjani saat ini kurang sehat dan perlu istirahat. Tapi kondisinya stabil, jadi jangan khawatir. Silakan menikmati hidangan yang tersedia.”

Musik kembali diputar. Beberapa tamu mulai bergerak ke area makan dengan langkah ragu. Aku melihat ayah Anjani dan orang tua Bima kembali bergabung bersama tamu. Melihat itu, aku sedikit lega. Setidaknya ini pertanda bahwa dia tidak dalam kondisi kritis.

Aku mencari wajah-wajah yang kukenal dan menemukan Ana, Komang, serta Salim sedang berdiri di dekat meja katering, berbincang dengan supervisor. Aku menghampiri mereka, masih dengan langkah berat dan dada yang terasa kosong.

“Ada masalah?” tanyaku dengan suara serak.

“Eh, Bang Danu…” Ana berusaha tersenyum, walau senyumnya tampak dipaksakan. Matanya tak lepas dari wajahku, seolah mencari jawaban dari sorot mataku. “Nggak, kok. Cuma ngobrol-ngobrol soal porsi makanan yang tersisa.”

Tatapannya menyimpan tanya yang tak terucap. Aku yakin dia ingin bertanya kenapa aku tadi menangis, tapi dia cukup peka untuk menahannya.

Kami duduk bersama dan berbincang seadanya. Kami tidak benar-benar makan, hanya menyibukkan diri dengan piring yang sebagian besar tak tersentuh. Semua orang tampak menahan cemas, tapi tak ada yang ingin mengatakannya lebih dulu.

Beberapa menit kemudian Mas Bayu, Stevani, dan Azka ikut bergabung.

“Gimana kabar Anjani, Kak Stev?” Ana bertanya dengan suara pelan, tapi nada cemasnya jelas terasa.

Mendengar nama itu, aku menunduk sebentar. Jantungku seperti diremas.

Lihat selengkapnya