“Ada apa? Kenapa ada suara ambulans barusan?” seru seorang pria.
Aku menoleh dan melihat ayah Anjani berlari kecil ke arah kami. Wajahnya cemas, napasnya memburu.
Di belakangnya, tampak dua sosok lain. Sepasang suami istri yang tak lain adalah orang tua Bima. Mereka baru saja keluar dari salah satu kamar tamu vila yang letaknya agak jauh dari bangunan utama tempat Anjani dan Bima menginap. Wajah mereka sama paniknya.
“Anjani dibawa ke rumah sakit. Kondisinya memburuk setelah pingsan tadi pagi,” jelas Stevani, berusaha tetap tenang meski suaranya sedikit bergetar.
Ibu Bima memegang dadanya. “Ya Tuhan... kenapa bisa sampai seperti ini?”
Ayah Anjani memejamkan mata sesaat, lalu membuka lagi dengan napas berat. “Aku ikut ke rumah sakit. Aku harus lihat Anjani.”
“Aku juga,” timpal Ibu Bima cepat. “Mana Bima sekarang?”
“Dia ikut dalam ambulans,” jawabku.
Mas Bayu menyanggupi. “Ayo naik. Kita berangkat sekarang.”
Tanpa banyak kata, kami semua masuk ke dalam mobil. Mas Bayu mengambil alih kemudi, aku duduk di sampingnya. Di kursi belakang, ayah Anjani duduk di sisi kanan, ayah Bima di tengah, dan istrinya di sisi kiri.
Tak ada yang bicara selama perjalanan. Hanya suara mesin mobil yang mengisi keheningan, sesekali diiringi isakan pelan dari ibu Bima yang menggenggam tangannya sendiri erat-erat.
Aku mencuri pandang ke kaca spion. Ayah Anjani menatap lurus ke depan, matanya berkaca-kaca, seolah sedang bertarung dengan ketakutan terbesarnya. Sementara Ayah Bima memejamkan mata, bibirnya bergerak pelan membaca doa, tangan kirinya meremas lembut lutut istrinya.
Kami menembus lalu lintas Seminyak siang hari yang mulai padat. Mas Bayu sesekali membunyikan klakson agar kendaraan di depan memberi jalan.
Di luar jendela, Seminyak tetap hidup seperti biasa. Turis-turis berjalan santai dengan baju tipis dan kamera tergantung di leher. Pedagang asongan memanggil dari pinggir trotoar. Langit Bali terlalu biru untuk hari yang sekelam ini.
Dunia tak berubah sedikit pun, padahal suasana di dalam mobil makin menegang, seiring waktu yang terus bergulir—seakan berpacu dengan detak jantung Anjani yang masih berjuang di ujung harapan.