Tak Ada Lagi Kita

Asri Lestari
Chapter #20

Bab 19. Perasaan Lega

Sesampainya di lantai dua, kami menyusuri lorong yang lebih sepi. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan bunga, membuat suasana tampak lebih cerah dan hidup.

Di depan pintu bertuliskan VIP-03, Bima berhenti, lalu menoleh ke arah kami.

“Dia masih belum sadar. Belum boleh terlalu berisik. Jadi kita masuk bergantian,” ujarnya pelan.

Ayah Anjani mengangguk. “Biar aku dulu yang masuk.”

Bima membuka pintu perlahan. Mempersilahkan ayah Anjani masuk.

Di dalam, ruangan itu tampak jauh lebih nyaman. Tirai jendela sedikit bergoyang tertiup angin lembut. Alat-alat medis masih terpasang, namun suasananya tak lagi setegang sebelumnya.

Di atas ranjang, Anjani terbaring dengan selimut menutup sampai dadanya. Wajahnya lebih tenang, meski masih tampak pucat.

Ayah Anjani melangkah masuk pelan-pelan, seolah takut membangunkan putrinya dari tidur panjang.

Kami menunggu di luar, dalam diam yang kini diselimuti rasa syukur. Setidaknya, masa kritis Anjani telah terlewati.

Dari dalam kamar, samar-samar terdengar suara ayah Anjani membaca doa. Membuat suasana terasa lebih syahdu.

Aku bersandar di dinding koridor, tepat di seberang pintu kamar Anjani. Cahaya lampu di lorong rumah sakit memantulkan siluet tubuh-tubuh yang menunggu dalam diam. Dari ujung lorong, samar terdengar suara perawat berbicara pelan dengan dokter jaga.

Bima berdiri tak jauh dariku, memandangi ujung sepatunya. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara bahunya sedikit membungkuk. Dia belum mengucapkan sepatah kata pun setelah membukakan pintu untuk ayah Anjani.

“Kamu sudah makan?” tanyaku memecah kesunyian.

Bima menggeleng. “Nggak kepikiran.”

Aku paham perasaannya. Seharian ini, aku pun sulit menelan. Tapi setidaknya aku sempat mencicipi sedikit makanan saat Bima sibuk merawat Anjani tadi.

Sedangkan Bima? Aku yakin dia belum makan apa pun sejak acara dimulai. Bahkan mungkin sejak bangun tidur.

“Ayo kita makan. Biar Mas Bayu yang nemenin di sini.”

Setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan untuk sedikit menghiburnya. Mungkin juga menghibur diriku sendiri.

Namun Bima menggeleng. “Aku nggak lapar.”

Lihat selengkapnya