Pagi ini aku datang bersama Mas Bayu, Stevani, Azka, dan Ana. Kami berjalan beriringan di lorong, masing-masing membawa sesuatu. Stevani menenteng buket bunga mawar, Ana membawa parcel buah, dan Azka membawa buku teka-teki silang.
“Biar Tante Anjani nggak bosen.” Begitu alasannya.
Di depan pintu, Mas Bayu tiba-tiba berhenti.
“Jangan ribut ya. Kita mengunjungi orang sakit, bukan audisi stand-up comedy,” canda Mas Bayu, yang menurutku sangat tidak lucu.
Aku pun tertawa hambar, yang malah ditertawakan oleh yang lainnya.
Saat pintu dibuka, Anjani langsung menoleh ke arah kami. Dia duduk bersandar di ranjang, mengenakan piyama rumah sakit dengan selimut menutupi kakinya. Senyum langsung tersungging di wajahnya melihat kami masuk satu per satu.
“Wah, tamu rombongan,” ujarnya. Suaranya masih serak tapi jauh lebih bertenaga dari kemarin.
“Aku ketua rombongannya,” seru Stevani ceria, meletakkan buket bunga di meja kecil samping tempat tidur. Ana menyusul, meletakkan parcel buah dengan hati-hati.
Azka maju terakhir dan menyerahkan buku teka-teki silangnya dengan wajah serius. “Ini buat Tante. Semoga cepat sembuh.”
Anjani terkikik. “Makasih, Kak Azka.”
Suasana kamar rawat Anjani pagi ini berbeda. Tirai jendela disibakkan, membiarkan cahaya matahari masuk bebas dan menyapa setiap sudut ruangan. Udara segar dari taman di luar membawa aroma yang menenangkan.
Mas Bayu duduk di sofa dekat jendela bersebelahan dengan Azka, Ana pun ikut duduk di sana menemani Azka. Stevani memilih duduk di tepi ranjang sebelah kiri sedangkan aku berdiri di sisi kanan tempat tidur.
“Gimana rasanya pagi ini?” tanyaku.
“Lumayan. Sakitnya sudah jauh berkurang,” jawab Anjani.
“Kita semua lega banget kamu sudah sadar dan pulih,” ucap Mas Bayu.
Stevani menggenggam tangan Anjani. “Sumpah ya, kamu tuh bikin jantung aku hampir copot kemarin. Tapi sekarang, lihat kamu senyum gini, rasanya bersyukur banget.”
“Maaf ya, sudah bikin kalian khawatir.” Mata Anjani sedikit berkaca-kaca, tapi dia buru-buru menyeka sudut matanya. “Aku juga lega bisa lihat kalian semua hari ini.”
“Kok malah minta maaf. Kamu nggak salah apa-apa, Sayang,” ujar Stevani sambil mengelus punggung tangan Anjani.
“Eh, Bima mana? Kok nggak kelihatan,” tanya Ana, mencairkan suasana.
Anjani menoleh ke arah Ana. “Ke kantin, beli camilan. Laper terus katanya kalau di rumah sakit. Padahal tiap hari kerja di rumah sakit, aneh-aneh aja.”
Aku tersenyum. Suasana kali ini berbeda dari kemarin. Tak lagi tegang, tak lagi suram. Rasanya seperti fajar yang datang setelah malam panjang.
“Kalau gitu, kita tunggu Bima datang,” ujar Mas Bayu sambil merenggangkan tubuh. “Semoga dia bawa camilan banyak. Tiba-tiba aku juga lapar, padahal udah sarapan. Mungkin benar, rumah sakit bikin lapar,” candanya.
“Kalau nggak bawa banyak, suruh Om Bima balik lagi,” celetuk Azka.
Kami semua tertawa.