Sore itu, langit Bali sangat cerah. Matahari menyinari jalanan dengan terik, menyelimuti udara dengan panas yang gerah. Tapi entah kenapa, sinar matahari itu terasa menenangkan, seakan alam ingin berpamitan dengan hangat.
Suasana di bandara sibuk. Orang-orang berlalu-lalang dengan koper dan tas di tangan, suara pengumuman berkali-kali terdengar dari pengeras suara, dan deru pesawat yang lepas landas menambah riuhnya suasana. Tapi hatiku... jauh lebih sibuk dari keramaian sekitar.
Dua hari lalu, Anjani akhirnya keluar dari rumah sakit. Hari ini, dia akan kembali ke Jakarta bersama Bima dan ketiga orang tua mereka. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Padahal seperti baru kemarin kami berkumpul di rumah sakit, terus melantunkan doa demi keselamatan Anjani. Ternyata kejadian itu sudah lebih dari seminggu berlalu.
Aku dan rombongan—Ana, Stevani, Mas Bayu, Azka, Salim, dan Komang—ikut mengantar mereka ke Bandara Ngurah Rai. Setelah semua yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir, kami merasa seperti keluarga. Walaupun kalau menurut Bima, aku memang bagian dari keluarga.
Aku melihat Anjani duduk di kursi roda, mengenakan blouse putih dan celana longgar berwarna krem. Wajahnya terlihat lebih segar, meski gurat lelah belum sepenuhnya hilang.
Di sampingnya, Bima berdiri dengan setia. Sesekali, dia menyuapi Anjani potongan buah dari kotak kecil yang dibawanya. Perasaan cemburu itu masih menyelinap sesaat, menyusup tanpa permisi seperti angin tipis, tapi aku cepat-cepat menepisnya. Aku tidak ingin merusak momen bahagia ini dengan perasaan negatif.
Tak jauh dari mereka, ayah Anjani dan kedua orang tua Bima tampak bercakap ringan. Wajah mereka hangat dan tenang, sesekali melirik ke arah anak-anak mereka dengan ekspresi bahagia.
Aku dan Salim menurunkan koper-koper besar dari bagasi mobil. Mas Bayu sigap membantu menyusunnya di atas troli. Bima yang melihat itu segera mendekat, ingin ikut membantu, tapi langsung ditolak halus oleh Mas Bayu.
“Udah, Bim. Kamu temani Anjani saja. Biar kami yang ngurus barang-barang,” katanya sambil tersenyum tipis.
Bima mengangguk, lalu kembali berdiri di sisi Anjani. Dua koper besar, dua koper sedang, dan tiga kardus berisi oleh-oleh telah tersusun rapi di atas tiga troli.
“Sudah siap, Sayang?” tanya Bima sambil menatapnya lekat.
Anjani mengangguk pelan. “Iya, aku siap.”
Stevani menghampiri sambil membawa tas kecil milik Anjani. Dia menunduk sedikit, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
“Kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi kita, ya. Kapan pun,” ucapnya pelan.
“Pasti,” jawab Anjani sambil menggenggam tangan Stevani sejenak. Hangat dan penuh rasa terima kasih.
Bima berdiri di samping ayah Anjani, lalu menoleh ke arahku. “Terima kasih sudah mengantar.”
Aku mengangguk. “Ini memang tugas kami,” jawabku singkat. Tapi dalam hati, aku tahu, ini lebih dari sekadar tugas.