“Bang, kayaknya kamu hutang cerita deh sama aku.”
Siang itu, Ana yang sedang duduk di sudut favoritnya tiba-tiba memecah keheningan kantor. Dia bersandar santai di sofa, dengan secangkir teh di tangan dan tatapan tajam penuh rasa ingin tahu.
Aku, yang sejak pagi sibuk memeriksa berkas-berkas di meja kerja, mendongak perlahan. Di meja sebelah, Salim yang sedang menikmati kopi panas juga ikut penasaran.
“Cerita apaan?” tanyaku, mencoba terdengar santai.
Ana menyipitkan mata, lalu menyilangkan kaki dan menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke sofa. “Soal kamu dan Anjani.”
Aku terkekeh, “Emang Aku sama Anjani kenapa?”
“Jangan pura-pura deh. Dari awal lihat fotonya di nikahan Kak Stevi aja udah kelihatan, tatapanmu beda. Terus pas kita jemput mereka di bandara, makin jelas. Dan waktu acara pernikahan... ekspresimu nggak bisa bohong,” jelas Ana panjang lebar.
Salim yang sedari tadi duduk santai langsung bangkit dari kursinya. Dia melangkah ke arah sofa tempat Ana duduk, lalu menjatuhkan diri di sampingnya sambil menyeringai.“Wah, ini menarik. Aku juga penasaran, Mas. Ceritain dong,” ujarnya sambil menyandarkan punggung dan menatapku penuh selidik.
Aku menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. “Ah, kalian berdua ini…”
Ana tetap bersikeras. “Ayo dong, Bang. Kita udah temenan tiga tahun. Masa hal kayak gini disimpan sendiri?”
Aku bersandar ke kursi, menimbang-nimbang, melipat tangan di dada, menatap langit-langit sebentar sebelum membuka suara.
“Baiklah. Kalian memang berhak tahu. Apalagi setelah semua ini.”
Ana dan Salim langsung duduk tegak, siap mendengarkan.
“Aku kenal Anjani dari awal kuliah. Sekitar dua belas tahun yang lalu. Kami sama-sama jurusan Manajemen. Pertama kali ngobrol itu saat ospek. Terus gara-gara aku ketiduran waktu kerja kelompok, dia marah-marah. Aku minta maaf dan setelah itu mengerjakan tugas dengan serius. Dari kelompok ospek itulah kami jadi sering bareng.”
Aku tertawa kecil mengingat kejadian itu. “Dia orangnya tegas, keras kepala, tapi juga cerdas dan lucu kalau udah kenal. Kami makin dekat karena sama-sama aktif di kegiatan pecinta alam kampus. Bareng muncak, bareng masak mie instan, bareng nyasar di jalur pendakian gara-gara kompas ketinggalan. Pokoknya banyak banget momen konyol tapi berkesan.”
Aku berhenti sejenak, tersenyum samar. “Di antara kabut di puncak gunung dan kopi panas di pagi hari, pelan-pelan aku jatuh cinta sama dia. Dan kayaknya dia juga merasakan hal yang sama.”
“Wah, kayak di film-film FTV nih,” celetuk Salim.
Aku tertawa ringan. “Iya. Rasanya waktu itu dunia cuma punya kami berdua. Nggak peduli capek, hujan, atau tidur di tanah dingin, asal bareng dia, semua terasa ringan.”