Sabtu sore, angin laut Nusa Dua berhembus lembut membawa aroma garam dan dupa. Matahari mulai condong ke barat, menyinari pekarangan rumah Ana yang luas dan rindang.
Rumah bergaya vila dua lantai itu berdiri anggun di kawasan tenang di Nusa Dua, tak jauh dari pintu tol Bali Mandara. Di sisi kirinya berdiri bangunan lain yang menjadi kantor sekaligus dapur besar usaha katering milik Ana.
Halaman depannya luas, cukup untuk lima mobil berjajar tanpa saling menutup jalan. Taman tropis kecil jadi pemanis di dekat teras depan. Tapi tempat favoritku tetap halaman belakang.
Begitu aku masuk lewat pintu samping yang terbuka, suara musik akustik dari speaker kecil menyambut pelan. Di halaman belakang, lampu bohlam kecil tergantung melingkari pohon kamboja, memantulkan cahaya kekuningan di permukaan kolam. Meja panjang dari kayu sudah dihias sederhana dengan taplak batik dan lilin-lilin kecil dalam gelas kaca.
Ana duduk di ayunan rotan kesayangannya di sudut terbaik halaman belakang, menghadap kolam renang dan diapit dua pohon kamboja yang daunnya bergerak pelan diterpa angin. Dia mengenakan celana kain longgar, tunik santai berwarna merah, serta kerudung hitam bermotif. Ponsel tergeletak di pangkuannya, bibirnya sedikit manyun.
“Kenapa? Kok kaya abis dimarahi klien?” tanyaku begitu melihat wajahnya yang kusut. Salim dan Komang belum tampak batang hidungnya.
“Temanku nggak jadi datang, Bang. Tiba-tiba dia harus lembur,” jawab Ana malas-malasan sambil memainkan tali ayunan.
"Ya udah, kita kumpul berempat aja seperti biasa. Sebentar lagi juga Salim sama Komang pasti nongol," ujarku mencoba menghiburnya sambil menarik kursi kayu ke dekat ayunan. Aku duduk, menyandarkan punggung, lalu meneguk es teh yang kuambil dari meja saat datang tadi.
“Iya sih.” Ana menghela napas, lalu tiba-tiba tersenyum jahil, “tapi kan aku mau ngenalin dia sama kamu.”
Aku mengangkat alis. “Apaan sih pake ngenal-ngenalin segala. Kayak aku nggak bisa cari cewek aja,” candaku sambil tertawa tipis.
Ana terkekeh. “Ih, liat dulu. Aku jamin kamu pasti tertarik.”
“Sok tau! Emang kamu tau tipeku kaya apa?” tanyaku sambil terkekeh.
“Nggak tau sih,” katanya santai. “Namanya juga usaha.”
Ana beranjak dari ayunan, mengambil kursi kayu lainnya, lalu duduk di sampingku. Dia membuka ponselnya, jempolnya lincah menggulir layar, sebelum akhirnya berhenti di sebuah profil Instagram.
"Ini, liat deh," katanya sambil memiringkan layar ponsel ke arahku. Foto yang ditunjukkan Ana menampilkan seorang perempuan berkerudung krem, tersenyum lembut dengan latar pantai saat senja. Nama akunnya: Kania Saraswati.
“Temen aku, namanya Kania. Cantik kan?” Ana menatapku penuh arti.
Aku mengangguk seadanya. “Hmm, iya… manis.”
Ana malah tersenyum makin lebar. “Orangnya asyik banget. Kamu harus follow dia deh!”
"Kenapa harus follow?" tanyaku sambil mengernyit.
"Ya, biar kenal. Lagian siapa tahu jodoh." Ana tertawa, tapi tatapannya jelas serius.