Malam sudah larut ketika aku tiba di kamar kos. AC di dinding berdesis pelan, menebarkan udara dingin yang menyambut tubuh lelahku begitu aku menyalakannya. Aku meletakkan tas di karpet depan televisi, lalu menjatuhkan diri ke sofa favoritku.
Saat mengeluarkan ponsel dari saku, entah kenapa, jemariku bergerak membuka Instagram. Rasa penasaran tiba-tiba menguasaiku. Aku mengetik nama akun yang tadi dipaksa Ana untuk aku follow, lalu mulai menggulir foto-foto Kania.
Sebagian besar fotonya sederhana. Helm proyek di atas meja gambar, sepatu kerja penuh tanah, foto suasana lapangan dengan latar gedung setengah jadi. Tapi kemudian mataku terpaku pada satu foto. Kania duduk di atas pasir, mengenakan kerudung putih polos, wajahnya tersenyum tipis sambil menatap ke arah laut yang berkilau diterpa matahari sore. Ada sesuatu pada senyumnya yang membuat dadaku tiba-tiba berdesir, seperti ada tarikan halus yang sulit kujelaskan.
Saat masih terpaku pada foto itu, notifikasi muncul di layar. Sebuah pesan masuk.
Dari Kania.
"Halo, Bang Danu. Ana tadi cerita tentang kamu. Salam kenal juga, ya."
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Aku menatap layar lama, tak yakin harus membalas apa. Itu hanya salam perkenalan, tapi rasanya seakan ada sesuatu yang lebih.
Kutegakkan tubuh dan bersandar di sandaran sofa. Ya ampun, ini konyol sekali. Kenal saja belum, tapi sudah begini gugupnya.
Aku bahkan sampai mematikan layar ponsel, lalu menyalakannya lagi hanya untuk memastikan pesan itu benar-benar ada.
Akhirnya, setelah beberapa menit penuh keragu-raguan, aku mengetik balasan:
"Halo, Kania. Iya, Ana tadi maksa aku buat follow kamu. Maaf kalau jadi agak aneh. Senang bisa kenalan.”
Jempolku menggantung di atas tombol kirim. Rasanya seperti mau melompat dari tebing. Sekali tekan, tidak ada jalan kembali. Aku menarik napas panjang, menutup mata, lalu menekan tombol itu juga.
Pesan terkirim.
Beberapa detik kemudian, notifikasi kembali muncul. Lebih cepat dari yang kubayangkan.
"Hahaha, iya Ana memang suka begitu. Nggak apa-apa kok. Lagian aku memang sudah sering dengar nama kamu juga dari dia.”
Aku terdiam. Ada rasa penasaran baru yang muncul. Sering dengar namaku? Dari Ana? Tentang apa?
Tanganku sudah gatal ingin segera mengetik pertanyaan itu, tapi aku menahannya. Malam masih panjang, dan entah kenapa, aku merasa percakapan ini baru saja membuka pintu menuju sesuatu yang tak terduga.
Akhirnya aku tak bisa menahan diri. Sebuah pesan terkirim.
"Memangnya Ana cerita apa tentang aku?"
Tak lama balasan masuk.