Tak Ada Lagi Kita

Asri Lestari
Chapter #27

Bab 26. Bunga pun Bersemi

Aku menatap ombak yang terus berkejaran menuju tepian. Langit mulai berwarna merah lembayung, sebentar lagi matahari akan tenggelam di batas cakrawala. Senja yang indah, seindah suasana hatiku sore ini.

Kupijakkan kakiku yang telanjang di atas pasir yang terasa kasar. Kususuri bibir pantai tanpa peduli angin kencang yang menerpa tubuh, atau air laut yang datang dan pergi membasuh hingga mata kaki. Aroma asin memenuhi rongga hidung, menembus paru-paru, seolah menyatu dengan diriku.

Aku berhenti di tempat yang sama, tempat terakhir kali aku berbincang dengan Anjani malam itu. Malam ketika akhirnya dia melepasku, dan aku harus merelakannya. Dua bulan sudah berlalu, namun setiap detailnya masih terpatri jelas dalam ingatan.

"Danu, perasaanku padamu masih sama seperti dulu. Tapi detik ini, di bawah langit malam, disaksikan bulan, bintang, pasir, dan ombak yang berderu… aku harus melepaskanmu." Begitu katanya malam itu. Dia tersenyum meskipun kulihat air mata mengalir di pipinya.

"Tak ada lagi kita, ya?" tanyaku lirih.

"Iya. Tak ada lagi kita. Maafkan aku, Danu." Dia menatap ke dalam mataku. Hatiku sakit, namun aku menemukan kebahagiaan di matanya, dan anehnya itu membuatku merasa lega.

"Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, Anjani."

Itulah kata-kata terakhir yang aku ucapkan sebelum kami sama-sama terdiam menikmati gemuruh suara ombak yang berlarian ke tepi, seperti sore ini. 

Namun sore ini aku datang bukan untuk meratapi nasib atau pun bersedih. Aku datang untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Anjani malam itu. Aku datang untuk melepaskannya.

Aku tidak pernah menyangka hari ini akan tiba. Hari ketika akhirnya aku menemukan seseorang selain Anjani.

Tiba-tiba pikiranku melayang kembali pada pertemuan yang berhasil membolak-balik perasaanku. Pertemuan singkat dengan Kania.

Siang tadi, setelah meeting dengan klien selesai, aku menerima pesannya:

"Bang, gimana kalau kita ketemu di rumah makan Padang seberang proyekku? Sekalian makan siang. Tempatnya sederhana, tapi makanannya enak. Maaf ya, aku minta ketemunya di dekat proyek soalnya jadwalku lagi padat.”

Aku tersenyum membaca pesan itu. Jadi, inilah pertemuan pertama kami. Bukan di kafe estetik atau restoran mewah, melainkan di rumah makan Padang yang sederhana.

Setelah membalas pesannya, aku segera meluncur ke tempat yang dimaksud. Rumah makan itu tidak terlalu besar, namun cukup ramai. Untung masih ada kursi kosong di dekat jendela. Aku memilih duduk di sana, sambil berusaha menenangkan degup jantung yang terasa kian cepat setiap menitnya.

Beberapa kali aku melirik jam tangan, lalu pura-pura sibuk merapikan tisu dan sendok di meja. Padahal yang aku pikirkan hanya satu, seperti apa penampilan Kania di dunia nyata?

Lihat selengkapnya