Obrolan kami mengalir dengan lancar, bahkan lebih lancar dari tadi siang, sampai membuat kami lupa waktu. Kami baru tersadar kalau hari sudah larut ketika Kania menunduk sejenak melihat jam di ponselnya.
“Sudah pukul 21.30.”
Aku terdiam sesaat. Sebagian diriku ingin pulang karena besok kami masih harus sama-sama bekerja, tapi sebagian lain enggan mengakhiri pertemuan malam ini. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengulur waktu sedikit lagi.
“Mau berjalan-jalan sebentar?” tanyaku hati-hati.
“Ide menarik. Ayo berjalan sampai Beachwalk. Aku akan naik taksi dari sana,” jawab Kania.
Aku mengangguk setuju. Kami pun melangkah keluar dari gerai. Angin malam Kuta menerpa wajahku, sekali lagi membawa campuran aroma laut dan dupa yang menenangkan.
Sesekali bahu kami bersentuhan, membuatku makin sadar betapa jarak di antara kami sebenarnya begitu dekat. Kania tampak santai, menatap ke sekeliling, sementara aku berusaha menyeimbangkan langkah agar tidak terlihat terlalu kikuk.
Kami berjalan menyusuri trotoar yang mengarah ke Beachwalk Shopping Center, melewati Hard Rock Cafe yang semakin malam semakin ramai, juga jajaran restoran dan tempat hiburan lainnya yang tidak kalah meriah.
Jarak yang kami tempuh sebenarnya cukup jauh, tapi entah mengapa, bersamanya membuat semua terasa ringan. Kami kembali tenggelam dalam obrolan, bercakap tentang banyak hal yang membuatku bersemangat.
Sesekali, suara debur ombak dari arah pantai di sebelah kiri menambah efek romantis. Rasanya seperti sedang berada di dalam adegan drama FTV.
Namun tiba-tiba, rintik hujan mulai turun, dan tak lama berubah menjadi deras. Tanpa banyak berpikir, aku meraih tangan kirinya dan mengajaknya berlari mencari tempat berteduh.
Kami akhirnya berhenti di teras sebuah minimarket, bergabung dengan orang-orang yang juga berlindung di sana. Nafasku masih terengah ketika menyadari satu hal, tangannya masih berada dalam genggamanku. Rasanya hangat dan lembut. Sulit untuk kulepaskan.
Kami terdiam, menatap lebatnya hujan yang turun dari langit. Tak ada kata-kata yang terucap, seolah kehangatan jemari yang saling bertaut sudah cukup untuk berbicara.
Dalam diam, aku merasa kami saling mengirim isyarat, bahwa malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Di tengah derasnya hujan pertama tahun ini, aku merasa kembali utuh.
Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan debaran yang masih belum reda. Ingin rasanya momen itu bertahan lebih lama, tapi aku tahu ini belum waktunya.
Aku pun melepaskan genggamanku dari tangannya dengan sedikit salah tingkah. Lalu berdehem pelan sebelum membuka obrolan.
“Maaf ya, aku tidak bisa mengantarmu karena mobilku mogok. Kalau mau, aku bisa menemanimu naik taksi. Nanti aku bisa balik lagi dengan taksi yang sama ke kosku.”
Kania menatapku sejenak, lalu mengangguk pelan. “Boleh, kalau tidak merepotkan.”