Tak Ada Lagi Kita

Asri Lestari
Chapter #30

Bab 29. Apa yang Aku Lakukan

Pagi itu aku terbangun dengan perasaan berbeda. Sinar matahari yang menyelinap lewat celah tirai kamar terasa lebih hangat dari biasanya.

Bahkan suara motor tetangga kos, yang biasanya mengganggu, kini terdengar seperti musik yang merdu. Semua karena satu hal, Kania. Senyumnya semalam masih terbayang jelas, membuatku bangun dengan hati yang terasa lebih ringan.

Setelah mandi dan bersiap, aku berangkat ke kantor lebih awal. Entah kenapa, rasanya ingin segera memulai hari. Siapa tahu ada kesempatan untuk kembali bertemu dengannya.

Aku memesan ojol karena mobilku masih harus menginap di bengkel. Untung jarak dari kos ke kantor hanya sekitar dua kilometer.

Begitu masuk ruang kerja, aku mendapati Ana sudah duduk di sofa kesayangannya sambil sibuk menatap layar ponsel.

“Pagi, Bang Danu!” sapa Ana dengan nada jahil.

Dari sorot matanya, aku bisa menebak kalau dia sudah tahu tentang pertemuanku dengan Kania kemarin.

“Pagi,” sahutku datar sambil menaruh tas di kursi kerja.

“Jadi…” Ana memiringkan kepala, matanya menyipit penuh arti. “Semalam Kania cerita banyak ke aku. Katanya, kalian kehujanan bareng di Kuta, ya? Ih, romantis banget!”

Aku terdiam, berusaha menyembunyikan rasa penasaran. “Terus... dia bilang apa?”

“Cie… ada yang penasaran, nih. Excited banget kayaknya?”

Belum sempat aku menjawab, Salim masuk ke dalam ruangan.

“Oh... yang semalam itu Kania, toh? Pantas Mas Danu panik banget minta tolong. Hahaha, akhirnya ketahuan juga!”

Ana langsung terbahak. “Astaga, beneran jatuh cinta, nih, kayaknya?”

Aku menghela napas panjang, berusaha tetap tenang meski wajahku pasti sudah merah padam.

“Kalian berdua, ini. Senang sekali godain aku.

Ana masih cekikikan sambil melirik ke arahku.

“Eh, ngomong-ngomong, siang ini aku ada janji makan sama Kania, lho, Bang.”

Aku spontan menoleh. “Serius?”

Ana mengangguk mantap. “Iya, dia bilang ada kunjungan ke kantor cabang Denpasar. Jadi sekalian ngajak aku makan siang bareng. Siapa tahu Bang Danu mau ikut?”

Nada suaranya sengaja dibuat menggoda, lengkap dengan alis yang bergerak naik turun.

Salim langsung menimpali, “Wah, pas banget tuh, Mas! Kesempatan emas. Jangan sampai kelewatan.”

Aku memainkan bolpoin di atas meja, berusaha menutupi rasa senang yang hampir meluap.

“Hmm… kalau Kania nggak keberatan sih, boleh aja.”

Lihat selengkapnya