“Danu, ayo siap-siap. Setelah akad nanti langsung foto keluarga,” suara Stevani memecah lamunanku.
Dengan cekatan dia mengatur alur acara dan memastikan semuanya berjalan lancar. Aku hanya mengangguk sambil menahan senyum, bersyukur ada Mas Bayu dan Stevani yang mau repot mengurus detail kebahagiaan kami.
“Semangat ya, Danu! Dikit lagi sah!” canda Mas Bayu sambil menepuk punggungku. Aku hanya bisa tertawa kecil.
Di sampingku, Abah yang datang dari Semarang bersama kedua kakakku terlihat tersenyum bangga. “Alhamdulillah, akhirnya sampai juga hari ini, Nak,” ucapnya dengan suara bergetar, seolah-olah menahan haru.
Kakak pertama, Mas Rendi, langsung menggoda sambil merapikan kerah bajuku. “Hati-hati, Nu. Begitu ijab kabul selesai, nggak bisa lagi kabur, lho.”
Sementara itu, kakak keduaku, Mas Faris, menepuk lenganku sambil tersenyum lebar. “Tenang saja, Danu. Kami semua ada di sini buat dukung kamu. Kania beruntung dapat kamu dan kamu juga beruntung dapat dia.”
Aku menelan ludah. Tiba-tiba ingatanku melayang pada satu hari sederhana yang secara ajaib jadi titik awal segalanya.
Waktu itu hari Minggu sore, suasana Denpasar terasa teduh setelah hujan. Aku memberanikan diri untuk pertama kalinya main ke rumah Kania. Jantungku berdetak tak karuan ketika berdiri di depan pagar rumah bercat krem, membawa sekeranjang buah sebagai oleh-oleh.
Ayah Kania sendiri yang membukakan pintu. Tatapannya tajam namun hangat. “Akhirnya datang juga, Danu,” katanya sambil menjabat tanganku erat, seakan kunjunganku sudah lama ditunggu.
Aku mengangguk gugup. “Iya, Pak. Mohon maaf kalau tiba-tiba datang. Saya hanya ingin silaturahmi.”
Beliau tersenyum tipis, lalu mempersilakan masuk. Di ruang tamu, Kania duduk manis dengan wajah agak salah tingkah. Sementara ibunya menyuguhkan teh hangat dan aneka kue basah.
Obrolan sore itu diisi dengan pertanyaan ringan, tentang keluargaku, pekerjaanku, juga kegiatan sehari-hari. Aku berusaha menjawab sejujur mungkin, dengan nada tenang meski hatiku berdebar. Kania juga ikut bercerita, begitu pula kedua orang tuanya. Jadi meskipun banyak pertanyaan, suasana tidak terasa seperti sesi interview.
Hingga tiba-tiba muncul pertanyaan yang tidak terduga.
“Jadi kalian mau lamaran dulu atau langsung akad nikah? Tapi Papa nggak mau kalian pacar-pacaran ya.”
Kalimat itu membuat ruang tamu hening. Aku terdiam, menatap cangkir teh di hadapanku yang mendadak terasa begitu panas. Dari sudut mataku, kulihat Kania membeku, pipinya langsung bersemu merah.
Aku berdeham pelan, mencoba menjaga wibawa. “Saya rasa hal itu perlu kami diskusikan dulu, Pak. Tapi yang bisa saya tegaskan, niat saya sungguh-sungguh. Kalau Kania berkenan, insya Allah tujuan saya memang menikah, bukan sekadar berpacaran.”
Ayahnya kemudian menoleh ke putrinya. “Kania, bagaimana menurutmu?”
Kania menarik napas perlahan. Dia menunduk sejenak, lalu menatap ayahnya dengan tenang. “Kania sependapat sama Papa. Pacaran itu tidak perlu. Kalau memang Mas Danu sungguh-sungguh dan siap, Kania nggak keberatan kalau kita langsung membicarakan hal yang lebih serius.”
Ibunya tersenyum tipis sambil menatap putrinya, sementara aku tercekat mendengar jawabannya. Ada rasa lega sekaligus gugup yang sulit kujelaskan. Rasanya seperti baru saja mendapat lampu hijau yang tidak kuduga akan datang secepat itu.
Ayahnya mengangguk pelan, lalu kembali menatapku. “Kamu dengar sendiri, Danu. Anak saya sudah jelas sikapnya. Tinggal kamu yang buktikan.”
“Kalau begitu akan saya diskusikan dengan keluarga saya dulu. Menurut saya sebaiknya tetap ada pertemuan dua keluarga untuk membahas langkah selanjutnya.”
Kania mengangguk mantap, kali ini tanpa ragu. “Itu lebih baik, Mas. Jadi semua jelas, tidak hanya antara kita berdua.”
“Mama juga sependapat. Kalau memang ada niat baik, sebaiknya dibicarakan bersama keluarga. Supaya semuanya lebih terang dan tidak ada salah paham,” tambah ibu Kania.
Ayahnya pun ikut menimpali dengan nada tegas namun ramah, “Betul. Ini urusan besar. Kalau sudah melibatkan keluarga, berarti memang sungguh-sungguh. Papa hargai sikapmu, Danu.”
Aku menunduk sopan, merasakan lega sekaligus makin besar tanggung jawab yang menanti. “Terima kasih, Pak, Bu. Insya Allah saya akan segera menyampaikan kepada keluarga saya.”
Lamunan itu terputus saat Stevani kembali mengingatkan. “Danu, ayo… sudah mau mulai. Jangan bengong, pengantin cowok harus sigap.”