Blurb
Ia yang selalu menjadi pelabuhan untuk mereka yang datang dengan kekosongan. Ia menjamu karena empati, lalu perlahan mulai mencintai. Namun mereka selalu pergi ketika merasa penuh. Meninggalkan pelabuhan yang luluh lantak setelah disinggahi. Ia hancur dalam kesendirian, sibuk menyalahkan diri atas retak yang bukan salahnya. Sibuk mendikte kekurangan yang mungkin menjadi penyebab kehancuran. Sibuk dengan segala sesuatu untuk menemukan penyelesaian dalam dirinya.
Sementara orang itu hilang tanpa menutup pintu dengan benar, tanpa menjelaskan alasan dibalik kepergian.
Ia bak melati, yang harumnya hanya dicari ketika udara terasa pengap. Dipetik tanpa rencana untuk ditanam, disentuh tanpa niat untuk dirawat. Wanginya direnggut hingga habis, lalu tubuhnya dibiarkan mengering di sudut yang tak lagi di pedulikan. Ia Diantha. gadis kaya empati yang sering menjadi tempat singgah, tanpa pernah menjadi rumah.