Bandung, 2015
Di penghujung malam yang dingin, di balik pohon yang mampu digoyangkan angin, ia duduk meringkuk memeluk lututnya. Wajahnya tenggelam di balik lengan yang sengaja dilipat, dengan kaki sebagai tumpuannya. Diantara gerimis yang panjang, kudengar sayup-sayup isakan tangis dari laki-laki yang memisahkan diri dari keramaian.
Ketika orang-orang tertidur lelap, ia mungkin pergi menghampiri kesendirian. Menangis diam-diam. Meski mungkin harus menekan suaranya sendiri agar tidak ketahuan. Aku menangkap rasa sesak yang keluar dari tangisannya. Entah beban apa yang membuat air matanya luruh.
Mungkinkah seseorang telah mengganggunya? mungkinkah ia disakiti tanpa sepengetahuan kami? ataukah ada beban yang mungkin sudah tidak sanggup lagi ia pikul sendirian.
Di tengah deretan kemungkinan yang mulai ku sebutkan satu persatu dalam pikiran, aku mendapatinya menyeka air mata. Tangannya mulai bergerak memutar di pelipis, seakan ada bagian yang sakit disana. Mungkinkah ia menderita suatu penyakit dan kini rasa sakit itu kambuh?
Aku bergerak cepat menghampirinya, ia mungkin butuh pertolongan. Namun di detik berikutnya ku urungkan niat. Kini jarakku dengan dia hanya beberapa meter saja. Langkahku tertahan ketika ia mengeluarkan sebuah benda pipih dalam saku celana. Laki-laki itu mengusap layar ponsel yang mengeluarkan dering kecil. Alarm. Ia terlihat mematikan alarm itu.