Bandung, 2018
Namanya Sakha. Laki-laki bermata sayu yang memendam banyak hal dalam tubuh kurusnya. Malam itu entah dari mana mulanya, hatiku membisik bahwa ia mungkin butuh rumah untuk berteduh. Air mata yang menetes malam itu, mungkin butuh tangan untuk menyekanya. Kepala yang terpaksa tenggelam dalam lipatan tangan yang bertumpu pada kaki itu, mungkin butuh bahu untuk bersandar.
Barangkali tafsiranku salah tentangnya, barangkali aku hanya mengada-ngada jika pundaknya memikul terlalu banyak beban sendirian. Barangkali aku hanya menciptakan narasi sendiri di kepalaku tanpa ada satupun yang ku lihat kebenarannya. Namun lagi-lagi hatiku membisik, sekiranya aku menjadi rumah yang tenang untuknya, apakah akan ada yang berubah?
Dia, si wajah dingin dengan pancaran kesedihan yang tanpa sengaja tertangkap mata. Mungkin aku akan dianggap sok tahu tentang hal-hal yang baru saja ku ungkapkan. Namun alam seakan memberiku sinyal yang bertaut dengan hidupnya. Aku tidak yakin apakah ini keajaiban atau sebatas bualan. Yang aku tahu, aku berencana untuk menyelami hidupnya, mencari tahu sesuatu di balik beban yang ia sembunyikan. Meskipun, aku cemas mungkin yang aku lihat bukan sesuatu yang benar-benar ia rasakan.
Orang-orang selalu berpikir kalau aku hanya menyukainya. Hanya tertarik pada wajah tampan yang melekat pada diri laki-laki itu. Barangkali itu yang mereka yakini ketika mendapatiku berinteraksi dengannya. Namun aku bisa menjamin, kalau aku tidak pernah menaruh perasaan sejenis itu.
Aku hanya ingin dia punya tempat yang nyaman ketika butuh tinggal. Lalu aku dengan senang hati akan menjadi pelabuhannya. Aku tidak pernah berpikir untuk menariknya, sekalipun. Namun jika dia datang, aku akan menyambutnya dengan baik. Sekedar berbagi pengalaman, atau nasihat kecil untuk seorang adik laki-laki yang tidak sengaja ku temui di tengah malam yang dingin.
Hingga suatu hari, ia benar-benar datang. Sekedar menyapa seniornya, kemudian meminta izin untuk menyimpan nomorku. Tentu saja aku tidak keberatan. Laki-laki penuh misteri yang hanya ku perhatikan dari jauh, tiba-tiba ada di depanku untuk berbasa-basi. Aku tidak tahu apa yang membuatnya datang. Namun satu hal yang bisa ku pastikan, kali itu dia menghampiriku tanpa wajah dingin yang selalu melekat padanya. Ia melangkah dengan senyuman, dengan mata yang cerah.
Tepat seperti hari ini. Di waktu senja yang hangat karena matahari masih bersinar di ufuk Barat, ia melambaikan tangannya padaku. Laki-laki bertubuh tinggi itu mengayunkan kaki yang mengarah ke tempat dimana aku berdiri. Di bawah pohon Angsana, yang bunganya akan segera menguning.