Mangkuk putih dengan kepulan tipis di atasnya menjadi titik pandangku. Pria paruh baya itu baru saja meletakkan dua mangkuk yang serupa di meja. Ujung tangan bagian dalam yang jarinya sengaja ku rapatkan menyentuh dahi, lalu mengayun hingga punggungnya menabrak pelan telapak tangan sebelah kiri, tanda terimakasih. Pak Deni lalu menekuk jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis bersamaan, hingga hanya ibu jari dan kelingking yang masih berdiri, ia mengayunkan tangannya dengan posisi punggung tangan di atas ke arah dada dan mengulangnya sebanyak dua kali, "Sama-sama..." katanya.
Dari sekian banyak kedai bakso yang ku datangi, hanya kedai bakso Bah Deden yang membuatku ingin menyicipinya lagi dan lagi. Mungkin ini hanya semangkuk bakso. Kuah bening dengan kaldu sapi yang menutupi bagian atasnya, ia seperti jaring yang menahan rasa gurih ketika orang menyicip satu sendok kuah. Wangi seledri dan bawang goreng yang mengambang diatasnya, selalu berhasil menggugah selera dan membuat perut berisik.
Adonan daging berbentuk bulat itu seakan menari di mulutku. Kenyal tapi lembut, dengan rasa bawang putih dan lada yang terasa lebih menonjol. Apalagi tetelannya yang dibuat melimpah. Ditambah sambal yang kaya rempah, khas buatan kedai Bah Deni.
"Uuhh, enak tau Ca. Coba deh!"
"Udah kayak nonton bikin laper depan mata banget ngelihat gerak-gerikmu, Di," ucap Cica yang lebih tertarik menyeruput es cendolnya. Kebiasaan perempuan satu ini, dia selalu membiarkan makanannya beberapa menit sebelum akhinya dimakan. "Ngenyangin dulu hidung," katanya.
"Emang enak, Ca."
"Iya enak iya. Kalau perasaan enak juga nggak?"
Aku menghentikan aktivitas mengunyahku, sejenak, "Maksudnya?" garpu itu tertusuk sempurna pada bakso yang kini berada dalam gigitanku.
Cica menghela nafas, "Saranku sih, Di, kurang-kurangin deh bikin Jingga dan Sakha bersinggungan. Kamu tahu sendiri Jingga belum bisa move on dari kamu. Setidaknya, sebagai temen yang baik yang tega nolak dia berkali-kali itu, jaga sedikit perasaan Jingga, Di."