Dari sudut mata, aku mendapati Aga menaiki motornya di parkiran. Sekilas aku melihatnya tengah menatap tajam ke arah kami. Tepat ketika Sakha menyimpan coklat di telapak tanganku. Aga masih diam sambil memperhatikan, ia hanya duduk di atas motor tanpa berniat menghidupkannya.
"Sebenernya sih, bukan lupa, sengaja, berat soalnya."
Ku dengar deru mesin motor yang dihidupkan ketika Sakha mulai berlari menghindari aku yang mungkin akan marah karena pernyataannya. Mataku mengikuti gerak tubuh Sakha yang berlari ke lapangan basket, tapi kakiku terkunci ketika melihat motor trail hitam itu mulai melaju ke arahku.
"Ayo pulang, aku anterin!"
Dengan secepat kilat Aga berada tepat di depanku. Memblokade jalanku menuju Sakha. Aku hanya diam, sebelum akhirnya dia menyerahkan helm.
"Pake dulu helm nya."
Nada bicaranya halus, seperti biasanya. Namun kalimatnya terdengar seperti perintah yang tidak bisa ditolak. Aku mengangguk, meraih helm pink yang katanya ia beli khusus untukku. Sebelum akhirnya aku menaiki motor, kulihat Sakha berdiri di dekat ring. Laki-laki itu sempat beradu pandang denganku, sebelum akhirnya melambai, berbalik, dan pergi begitu saja.
Aku menaiki motor dengan topangan lengan Aga. Motor trail miliknya terlalu tinggi untukku. Aku bergerak canggung, dengan Aga yang tidak pernah melepaskan pandangannya dariku. Padahal aku berharap tidak bertemu dengan Aga sore ini. Sayangnya, ia datang bahkan disaat yang tidak tepat.
"Padahal gak ada alasan lagi untuk ketemu. Kenapa dia jadi sering nyamperin kamu?" tanya Aga, yang akhirnya memecah keheningan sejak motornya melaju membelah jalanan. Ia berhenti sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan pembicaraan. "Aku ngerasa kamu itu selalu antusias dekat dia. Semenyenangkan itu kah orangnya?"
"Hm?"