Tak Semua Kisah Harus Selesai #EdisiMelati

Gwen Zea
Chapter #6

Mengalah lebih baik

Satu perasaan bisa menimbulkan banyak asumsi, baik dari pemiliknya, maupun yang melihatnya. Ia lebih rumit dari yang dipikirkan. Lebih dalam dari yang dibayangkan. Lebih luas dari yang tertangkap oleh pandangan. Kadang permukaan mengatakan sebaliknya. Menurutku, satu-satunya yang paham hanya pemilik perasaan.


Kak... maapin yaa tadi gak balik senyum.

17.34 Malu soalnyaa


Pesan dari Sakha masuk begitu aku tiba di rumah. Sejenak aku berpikir apa maksudnya? Pikiranku mulai menerawang, mencari apa saja yang sudah dilalui hari ini. Rapat BEM, perpustakaan, kelas, kantin, Risa. Semua mulai terdikte di kepala. Tentang Sakha....

"Oh, di kantin," aku bergumam, kemudian menarik knop pintu dan masuk ke kamar.

Aku baru ingat ketika pergi ke kantin bersama Risa untuk membeli kopi, mataku tanpa sengaja bersinggungan dengan Sakha. Laki-laki yang hari ini menggunakan kacamata sambil menenteng jus Alpukat dan tas berwarna coklat yang melingkar di bahu kirinya. Entah apa yang selalu ia lakukan di kantin Fakultas Ilmu Budaya, padahal dia anak Informatika.

Tentang senyum, sepertinya bibirku memang tersungging otomatis ketika melihatnya, dan ya, sejatinya ia memang si manusia es yang minim ekspresi. Membalas senyum pun seperti pekerjaan yang berat. Beberapa bulan mengenalnya aku bisa maklum. Toh, ketika hanya ada kami di tempat dimana tidak banyak lalu lalang orang, dia bisa menampakkan senyuman itu padaku secara sukarela.

Ku simpan tas bahuku di raknya. Lalu berjalan gontai menuju sofa tunggal di dekat jendela, mendudukkan diri disana. Di luar awan tampak abu-abu, matahari bahkan tidak kelihatan lagi. Mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Aku meraih handphone yang sempat ku letakkan di ujung kursi. Jari-jariku segera bergerak membuka room chat untuk membalas pesan Sakha.

Kenapa minta maaf? besok juga gitu lagi, kan hahaha 17.40

Aisshh

17.40 Udah pulang?

"Tumben langsung bales," gumamku pada diri sendiri.


Udah dong! 17.40

Syukurlah

17.41 Selamat istirahat...

Setelah mengirimkan satu stiker untuk membalas pesan terakhir, aku beranjak berdiri menuju kamar mandi. Hari yang sangat melelahkan, aku butuh air hangat untuk membuat tubuhku lebih rileks. Baru saja aku meraih handuk yang tergantung dibalik pintu kamar mandi, beberapa notifikasi masuk, mengeluarkan deretan dering.

Jangan lupa makan

Cuci kaki

Lihat selengkapnya