Untuk pertama kalinya, aku merasa salah satu doaku mencapai ambang batas. Selama empat tahun doa itu melindungiku dari luka yang mungkin bangkit ketika pertemuan tidak sengaja itu terjadi. Selintas ku cerna ulang, barangkali ini bukan tentang kekuatan doa yang habis. Apa yang tertangkap mataku hari ini mungkin hanya salah satu takdir. Disana, di antara rak yang berisi lusinan pakaian bayi, aku melihatnya berdiri bersama dengan sosok wanita yang asing dimataku.
Laki-laki yang pernah ikut andil untuk memporak-porandakan hidupku, kini sedang tersenyum penuh haru ketika tangannya menyentuh kain lembut yang sudah dirajut untuk menghangatkan tubuh seorang bayi. Seorang bayi yang mungkin akan segera lahir dari wanita itu.
Aku meneguk ludah dengan susah payah. Kenangan-kenangan itu mulai terputar dipikiran. Sialnya, arah pandangku tidak mampu beralih dari sana.