Bahkan senja berwana jingga itu tidak bertahan lama. Ia pamit setelah tahu gelap akan hadir menyapa. Seakan, dia tahu kapan harus pergi.
Mengalah lebih baik, kak...
Kali pertama dia mencampuri urusanku. Melalui pernyataannya itu, bahkan dia sendiri tidak tahu apa yang sudah terjadi. Antara aku dan Jessi, masalahnya terlalu rumit dan bertumpuk jika harus disebut sebagai sepele. Ya, sepele bagi mereka, tapi tidak bagiku. Pertemanan yang sudah berada di ujung tanduk, ditunggangi tukang adu domba yang tidak suka dengan hubungan kami. Di lihat dari mana pun itu bukan suatu permasalahan yang kecil. Sesuatu telah menumpuk sejak lama, tidak pernah dibereskan, lalu memuncak suatu hari. Itulah kira-kira pandanganku tentang masalah ini.
Lalu Sakha? orang asing yang tidak pernah tahu bagaimana itu telah terjadi dengan beraninya memintaku untuk mengalah. Jelas amarahku naik. Malam itu aku tidak lagi menjawab pesannya. Bahkan setelah dia kembali mengirimiku pesan di pagi hari.
"Mulai kelihatan kan toxic nya dia?" tanya Cica setelah aku menceritakan semuanya.
Aku ingin berpikir bahwa Sakha mengatakan itu dengan maksud baik. Mungkin dia tidak ingin aku berada dalam masalah yang berlarut-larut. Apalagi tidak hanya yang bersangkutan yang tahu kami sedang tidak baik-baik saja. Rumor mulai menyebar ketika Jessi memilih untuk bergabung dengan sebuah circle, dan tanpa kusadari, ternyata Sakha menjadi bagian dari mereka. Itu alasannya mengapa dia sering berada di area Fakultas Ilmu Budaya.
"Dia bukan orang yang gak punya temen, Di. Circle-nya aja udah gak bagus, apalagi yang mau kamu bela? sampai sini ngerti kan kenapa aku ngomong kayak gini?" Cica menatapku khawatir. "Aku minta maaf kalau aku menyinggung kamu kemarin. Tapi Di, selama ini aku diam bukan berarti aku gak peduli dan akhirnya berubah pikiran. Aku cuma pengen mastiin sebelum aku ngasih tahu kamu, dan ya, disanalah aku tahu kalau pemikiranmu tentang Sakha itu gak semuanya bener," imbuhnya.