Tak Semua Kisah Harus Selesai #EdisiMelati

Gwen Zea
Chapter #8

Sore, di Dago atas

Secangkir kopi panas menemani pagiku yang dingin. Hujan mengguyur Bandung sejak pukul 5 subuh. Andaikan pak Jaka tidak mengadakan kuis hari ini, akan ku pastikan tubuh ini masih terbaring dibawah selimut yang hangat. Namun dosen langganan pukul 7 tepat itu memaksaku menerobos tirai air yang entah kapan akan berhenti.

Aku tiba setengah jam lebih cepat hari ini. Semalam setelah mendapat telepon dari Aga sebelum ia naik pesawat, aku tidak bisa tidur lagi. Laki-laki itu berhasil membuat perasaanku campur aduk dalam semalam.

Tentang Aga, dua hari yang lalu ia tiba-tiba menelpon mengajak bertemu. Sore itu kami pergi ke Dago atas, ada cafe kecil yang sering kami kunjungi disana untuk sekedar bercengkrama atau mengerjakan tugas.

Namun kali itu lain. Raut wajah Aga terlihat serius sejak awal, tidak seperti biasanya. Katanya, ada hal yang ingin dia sampaikan. Jauh di lubuk hati, aku merasakan gelisahan yang beberapa bulan terakhir ini mengakar di pikiran.

Aku dan Aga telah berteman sejak kami menginjakkan kaki di bangku kuliah. Saat itu kami bertemu di tempat pengambilan jas almamater, dia menyapaku dan akhirnya kami berkenalan. Kami berada di fakultas yang sama, meski berbeda jurusan. Namun karena berada di wilayah yang sama, banyak singgungan yang terjadi diantara kami. Bahkan seiring berjalannya waktu, kami lebih sering bercengkrama tanpa alasan.

Selama satu tahun, aku mengenalnya sebagai seorang teman. Aga adalah tempat berkeluh kesah, teman bertengkar, dan kadang menjadi sosok dewasa yang mengayomi. Namun, tiba-tiba ia mengungkapkan sesuatu yang selama ini ia pendam. Hal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.

"Selama ini, aku baru sadar, ternyata aku gak cuma anggap kamu sebagai teman, tapi juga sebagai seorang perempuan. Awalnya aku denial, tapi lama-lama membludak juga. Jangan berpikir aku lagi becanda, Di. Aku suka kamu, bukan sebagai seorang teman, tapi sebagai perempuan yang ingin ku miliki..."

Sejak ungkapannya terdengar di telingaku, aku tidak bisa lagi hanya menganggapnya sebagai teman. Namun, ketulusannya belum mampu mengetuk hatiku. Perasaannya ku tolak berkali-kali. Kadang aku pikir Aga mungkin mulai membenciku karena itu, tapi nyatanya, tidak ada satu pun dari sikapnya yang berubah setelah kejadian itu. Sementara aku, terjebak dalam kecanggungan yang ku ciptakan sendiri.

Laki-laki itu, Jingga. Selintas ku pikir lebih baik ku terima saja cintanya. Namun pikiran itu berhasil ku tepis berkali-kali. Aku belum siap untuk memulainya lagi. Aku tidak ingin menjadikannya sebagai tempat berlindung hanya ketika aku merasa kesepian. Disaat aku yakin perasaanku tidak tertuju padanya.

Namun, manusia gigih itu bersikeras menunggu sesuatu yang tidak pasti, "Biarkan aku yang meruntuhkan dinding itu dan memperbaikinya dengan caraku. Jangan paksa aku untuk berhenti, sebelum aku menemukan cara untuk mengatur perasaanku," ungkapnya suatu hari.

Sore itu, ku pikir Aga hanya akan mengulangi usahanya lagi. Sore itu, ku pikir ia hanya ingin bertanya sampai mana ia berhasil merobohkan dinding yang ku bangun sekuat tenaga itu. Rupanya, ia datang dengan hal lain.

Lihat selengkapnya