Tak Semua Kisah Harus Selesai #EdisiMelati

Gwen Zea
Chapter #9

Tamu tak diundang

"Di, sedikitpun, ada gak sih harapan untuk aku?" Aga menatapku dengan tatapan yang semakin sulit kuartikan, "Setelah kamu tahu apa yang aku rasakan, setelah kamu lihat semua yang aku usahakan, pernah gak sih sedikit aja kamu merasakan hal yang sama?"

Aku diam, hanya menatapnya dengan dada yang berdegup kencang. Dengan perasaan tidak karuan yang datang mengguncang. Dengan perasaan takut, kalau-kalau sosok Jingga akan menghilang. Aku takut, cemas, dan sakit disaat yang bersamaan.

Aku takut ia benar-benar pergi. Aku cemas dengan segala hal yang mungkin sedang Aga rasakan saat ini. Hatiku sakit, perasaan yang sama sekali tidak ku mengerti. Perasaan yang tiba-tiba membuat dadaku sesak, tanpa tahu apa penyebabnya.

"Atau justru aku tetep kalah? Atau justru kamu melihat orang lain saat ini? Sakha misalnya."

"Ngomong apa sih kamu, kenapa jadi Sakha?" Aku merasa suaraku bergetar ketika berbicara. Ku lihat, laki-laki yang duduk diseberang ku itu cukup terkejut dengan perubahan nada bicaraku.

"Di?"

"Kenapa tiba-tiba bilang mau pergi? dan besok..."

Air mataku mencelos begitu saja. Segera, ku seka dengan kasar karena kehadirannya sama sekali tidak ku harapkan di situasi seperti ini. Bisa saja Aga memang sedang menjahiliku.

"Aku tahu ini mendadak. Maaf gak bilang sebelumnya. Tapi aku gak bohong soal Papa yang salah pilih jadwal. Harusnya Tiga hari lagi."

Tiga hari lagi. Sama saja. Itu terlalu mendadak untukku. Seketika aku kehilangan harapan. Aku kehilangan harapan bahwa ia menjahiliku. Kehilangan harapan bahwa ia hanya sedang berkhayal dan mengada-ngada seperti biasanya. Ternyata benar, ya.

"Kenapa sih baru bilang? Padahal kemarin kita ketemu, setiap hari kita ketemu. Kamu bahkan gak ngomong kalau ada rencana pindah kuliah, kamu gak bilang Ga!"

Tamatlah sudah. Air mata ini tidak bisa lagi dihentikan. Ia keluar begitu saja ketika memahami dengan benar bahwa kali ini Jingga benar-benar serius. Dia akan pergi, dan tidak menutup kemungkinan hari ini adalah hari terakhir aku bisa berbincang berhadapan dengannya di cafe ini.

Aku mendapati perubahan ekspresi laki-laki itu yang berubah panik. Sepertinya ia terkejut mendengar penuturanku yang parau dan aku yang kini terus menyeka air mata.

"Di?" panggilnya, lirih. "Maaf!"

Lihat selengkapnya