Tak Semua Kisah Harus Selesai #EdisiMelati

Gwen Zea
Chapter #10

Gerbang Penyesalan

Waktu tidak memberikan kesempatan untukku, untuknya, dan untuk cerita kami di lembaran baru. Ia pergi, lalu pintuku yang diam-diam terbuka, tertutup kembali bersama sisa-sisa penyesalan.


Cica menyenggol lenganku ketika mata kami mendapati sosok laki-laki bertubuh tinggi dengan kemeja kotak-kotak coklat yang tengah berdiri di luar kelas, tidak jauh dari ambang pintu. Ia hanya diam menatapku, tanpa melakukan apa-apa. Padahal ketika aku masuk, ia tidak ada disana.

Sejak kejadian di kantin yang hampir membuat gaduh itu, aku benar-benar mengabaikan setiap interaksi dari Sakha. Tidak membalas pesannya, tidak menjawab teleponnya, menghindar jika berpapasan, pergi jika ia menghampiri. Hal itu terus berulang selama satu minggu terakhir.

Kadang, aku berpikir sikapku sangat kekanak-kanakan. Kadang, rasa bersalah menjalar dipikiran ketika otak ini mencoba berpikir kalau dia tidak sepenuhnya salah. Dari penjelasannya, ia mengatakan bahwa ia peduli. Tidak ingin mendengar namaku terus dihujani hujatan, ia berpikir satu-satunya cara adalah mengakhiri pertikaian. Dengan cara yang tidak ku inginkan.

Sementara aku memilih abai dengan segala jenis asumsi mereka terhadapku. Biarlah orang-orang itu menuduhku atas apa yang tidak pernah kulakukan. Biarlah Jessi menjadi korban atas masalah yang skenarionya ia ciptakan sendiri. Toh, wajah yang tampak menyedihkan selalu menjadi pemenangnya. Aku yang emosional ini hanya antagonis dalam skenario itu.

Bahkan Cica yang mulanya tidak terima dengan segala omong kosong Jessi akhirnya menyerah juga. Siapalah yang bisa menghentikan penulis handal yang bersembunyi dibalik air mata penuh penderitaan itu. Terkadang orang lebih mempercayai satu orang yang menangis tersedu-sedu, daripada dua orang yang berdiri tegak dengan taring yang tidak pernah bisa disembunyikan. Mereka meyakini tanpa memeriksa apakah taring itu pernah menyakiti atau tidak.

Lalu Sakha, ia berusaha mendorongku agar mengakui sesuatu yang tidak pernah kulakukan, bahkan dengan taring yang selalu terlihat itu. Kini ia berdiri meminta belas kasih agar permintaan maafnya diterima, tanpa menghilangkan pemikirannya sama sekali.

"Kelas hari ini saya cukupkan, dua hari lagi saya tutup pengumpulan tugas, jadi jangan sampai terlambat. Selamat Sore!" ucap Bu Timi, lalu keluar dari ruang kelas.

"Kamu mau nemuin dia?" tanya Cica, ia menggeser kursinya hingga mengenai kursiku.

"Jujur males, tapi kayaknya harus diberesin hari ini. Cape kayak diteror tiap hari!" keluhku, lalu memasukkan buku ke dalam tas.

Lihat selengkapnya