Tak Semua Kisah Harus Selesai #EdisiMelati

Gwen Zea
Chapter #12

Ia menangis lagi

"ASTAGA!" refleks aku berteriak ketika mendapati kepala wanita paruh baya itu muncul di ujung tirai.

"Di suapin neng, disuapin. Susah atuh itu teh, liatin impusannya pasti sakit atuh1. Gimana si eneng teh, gerogi, ya?"

Entah perasaanku saja atau bukan, tapi nada bicara wanita yang usianya sekitar 70-an itu terdengar seperti menggodaku. Matanya berbinar ketika menatapku dan Sakha secara bergantian, dan lagi, mengapa harus tiba-tiba muncul seperti itu? Tanpa ada tanda-tanda atau sedikitpun suara, sama seperti sebelumnya, hanya terlihat bagian kepala dengan rambut penuh uban yang ia ikat ke belakang menjadi satu. Siapa yang tidak terkejut dengan itu?

Wanita dengan baju merah motif daun itu kini menyingkap tirai, lalu berdiri disampingku. Ia melingkarkan tangannya melewati punggungku, lalu menepuk-nepuk lengan sebelah kanan sejenak, sebelum akhirnya melepaskan setengah pelukannya.

"Sok atuh disuapin. Biasanya dibantu sama suster, tapi tadi katanya nanti aja, jadi susternya pergi. Kalau saya tawarin suka nolak mungkin sungkan, jeung deuih kalau sama saya mah meureun gak mau atuh da nggeus kolot kieu atuh nya2," wanita itu tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan, "Ari sama si eneng cantik mah, pasti semangat makannya."

Aku menganggukkan kepala sekali sembari menyunggingkan bibir. Wanita itu kini berjalan ke sisi lain, mendekati Sakha. Di raihnya sendok dari tangan laki-laki itu, lalu ia kembali berjalan ke arahku sambil menyerahkan sendok itu.

"Akhirnya ada yang datang juga, kasian neng dia sendiri terus," ujarnya. Lalu menepuk bahuku pelan, "Ya sudah sok atuh disuapin ya si Aanya. Saya kesana lagi," imbuhnya, lalu pergi.

Kali ini ia biarkan tirainya terbuka sedikit. Sementara aku masih berdiri mengikuti pergerakan wanita itu. Selepas tubuhnya menghilang di balik tirai, pandanganku beralih pada Sakha. Aku melangkah, kembali mendekati laki-laki itu. Dengan gerakan yang kaku, aku mengambil sesendok bubur. Kedua tanganku mulai bergerak, tangan kanan memegang sendok, sementara yang kiri menadah, kalau-kalau ada bubur yang menetes.

"Gapapa suapin aku?" tanya Sakha, membuat pergerakanku berhenti.

Aku menggeleng, "Gapapa, ayo makan," ucapku sambil menyuapi laki-laki itu perlahan. "Udah dingin ya buburnya, mau dipanasin dulu?"

"Gak usah, gapapa, makasih ya!"

Aktivitas itu berlangsung selama beberapa menit. Tanpa suara. Tanpa perbincangan. Aku hanya fokus dengan aktivitasku, dan ia sibuk menerima makanan dari tanganku. Rasanya canggung berada dalam posisi ini. Mengingat kesan terakhir kami tidaklah baik.

Tadi, ketika menerima telepon dari Sakha, sejenak aku terkejut karena menerima kabar bahwa ia sakit dan sedang di rawat di rumah sakit. Suaranya terdengar lemah. Faktanya, kondisi tubuhnya pun memang terlihat tidak baik. Pantas saja aku tidak pernah melihatnya lagi sejak pertemuan terakhir kami. Mungkin ia memang sudah sakit sejak saat itu.

Mengingat apa yang dikatakan wanita itu, sepertinya ia benar-benar sendirian selama ini. Memangnya teman-temannya itu tidak datang? Jessi atau yang lainnya? Atau Sakha hanya tidak memberitahu mereka? Jahat sekali rasanya ketika mereka tahu tapi tidak menemui Sakha sama sekali. Mereka sering bersama, seharusnya diantara mereka ada yang menjaganya bukan?

Lalu orangtuanya? Jarak Jakarta ke Bandung bahkan tidak teramat jauh untuk ditempuh oleh mereka, apalagi anaknya sakit dan harus dirawat seperti ini. Kesibukan apa yang membuat kedatangan mereka tertahan? Apa mungkin ini yang Sakha maksud sebagai kesendirian? Tidak ada yang peduli?

"Makasih ya udah nyuapin aku. Maaf kalau aku selalu bikin repot," ucapnya, setelah menelan suapan terakhir.

"Iya gapapa."

Lihat selengkapnya