Tak Semua Kisah Harus Selesai #EdisiMelati

Gwen Zea
Chapter #13

Lagi-lagi empati

Jakarta, 2025

Kata mereka empatiku berlebihan, padahal tidak semua hal menjadi urusanku. Aku tahu itu. Aku pun membenarkannya. Namun perasaan itu telah menjadi penyakit yang belum ku ketahui obatnya apa, dan bagaimana cara mengatasinya.

Kata mereka mendapatkan permintaan maaf dariku begitu mudah, hingga orang-orang bisa datang dan pergi sesuka mereka setelah membuat hatiku luluh lantak. Orang sepertiku lebih mudah dimanipulasi dan dimaanfaatkan, kira-kira begitu yang ku dengar dari kebanyakan orang.

Tentu saja. Ku akui banyak keputusan yang salah hingga berakhir dengan membiarkan hatiku digores. Bukannya terlalu naif untuk mengerti, hanya saja, terkadang, aku berpikir untuk menjalaninya demi sebuah kedamaian. Orang mungkin akan menyampaikan kritiknya lagi soal ini. Dari mana titik damainya jika yang dilakukan hanya menjemput luka dengan tangan sendiri?

Mereka hanya tidak mengerti. Pola yang kulakukan memang sama. Aku sadar betul bagaimana seseorang akan menghujam hatiku dengan belati, tapi aku memilih untuk terus berdiri, merasakan setiap hujaman yang menyakitkan. Bukan karena aku tidak mencintai diri, justru akulah yang merasa paling mengerti dan paling mencintai diriku.

Itu dulu...

Saat-saat dimana aku ingin kembali kesana dan memperbaikinya, terkadang. Rasa sesal yang merundungku hingga hari ini, membuatku mulai berandai-andai. Andai aku tidak bertemu Sakha. Andai aku bisa mengontrol empatiku saat itu. Andai aku tidak datang ke rumah sakit.

Dan...

Andai aku tidak datang lagi meskipun mendengar hal-hal menyedihkan tentang dia. Seperti hari itu, hari dimana aku merawatnya di rumah sakit, setiap hari. Karena tidak ingin membiarkannya sendirian ditengah rasa sakit yang ia derita.

Bandung, 2018

Lihat selengkapnya