Tak Semua Kisah Harus Selesai #EdisiMelati

Gwen Zea
Chapter #15

Sepatu merah muda

Kami sampai di toko sepatu tepat pukul 2 siang. Sakha segera mengambil motor yang terparkir di dekat perpustakaan Ilmu Budaya ketika aku menyetujui keinginannya untuk ikut. Katanya ia ingin membeli sepatu juga, untuk seorang perempuan. Apakah dia sedang dekat dengan seseorang?

Tidak mungkin adiknya karena ia tidak punya adik perempuan. Bukan juga ibunya karena ia pernah mengatakan ibunya bekerja di Korea sebagai MUA. Bahkan menurut ceritanya, mereka tidak sedekat itu untuk saling memberi hadiah. Lalu untuk siapa ia membeli sepatu? Apakah untuk seseorang yang mungkin sedang ia suka?

Saat ini aku berjalan diantara rak tempat penyimpanan berbagai macam high heels. Aku ingin membeli sepatu yang pas dengan kebaya yang sudah ku persiapkan untuk wisuda nanti. Kebayaku berwana merah muda khas Sunda, dengan kain untuk rok yang berwarna coklat kehitaman. Ah, membayangkannya saja membuatku semakin ingin segera memakainya. Aku menyukai kebaya, tapi jarang ada momen dimana aku bisa memakai pakaian tradisional itu.

"Kamu lagi cari sepatu apa emangnya?" tanya Sakha, yang sejak tadi mengekoriku.

"Heels, buat wisuda nanti," jawabku, sambil terus menyapukan pandangan pada sepatu yang berderet di rak tinggi itu.

"Mau warna apa?"

Aku diam. Sialnya pikiranku berkelana pada apa yang akan laki-laki itu beli. Sepatu pink! Jika aku mengatakannya, apakah tidak terkesan aneh? Maksudku, ia lebih dulu mengatakan akan membeli sepatu perempuan yang suka warna pink. Lalu tiba-tiba aku mengatakan padanya aku akan membeli sepatu dengan warna yang sama. Itu benar-benar aneh. Meskipun sejak awal aku memang akan membelinya.

Aku takut Sakha berpikiran yang tidak-tidak. Bagaimana kalau ia berpikir aku ingin ia membelikannya untukku? Bagaimana kalau ia berpikir aku kegeeran karena membeli sepatu berwarna pink? Oh tidak, itu sungguh buruk. Aku tidak mau itu terjadi.

Namun tiba-tiba tangan laki-laki itu meraih sepatu heels yang ujung depannya lancip, sepatu dengan hak yang tidak terlalu tinggi tapi juga tidak terlalu pendek. Sepatu itu tampak sederhana tanpa adanya tali yang melekat, tapi terdapat motif bunga sakura dibagian belakang berukuran kecil, hampir tidak terlihat tapi memberikan kesan manis dan anggun.

"Kalau ini gimana? Kamu suka tidak?"

"Bagus-bagus, untuk perempuan yang suka warna pink itu pilihan yang cocok kok," ucapku, yang kemudian dibalas tawa kecil darinya.

"Kalau kamu suka tidak?"

"Suka, aku suka desainnya, lucu dan manis, ada bunga sakuranya," jawabku, sembari menunjuk bagian motif bunganya.

"Mau dicoba gak? ukuranmu berapa?"

"Ukuran 39, emang ukuran dia berapa?"

"Siapa?"

"Perempuan itu, kamu pengen beli sepatu buat dia, kan?"

"Oh, iya aku pengen beliin dia sepatu. Kebetulan ukurannya 39 juga, boleh gak kamu cobain? Ukuran sepatu ini 39 juga kok."

"Oh oke, sini sepatunya."

Tiba-tiba saja laki-laki itu bertekuk lutut, "Aku pakein aja, izin ya," ucapnya.

"Eh kenapa? Aku bisa sendiri, kok."

Lihat selengkapnya