"Kamu gak suka kah aku beliin sepatu? Aku pengen kasih kamu hadiah," ucapnya lirih.
Sementara aku diam membeku. Merasa heran dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba ini. Mengapa ia membeli sepatu dan mengusap kepalaku? Apa maksudnya?
"Maaf ya, sebenarnya aku gak sengaja denger kamu telponan dan bilang mau beli sepatu senada dengan kebayamu yang warnanya pink. Aku gak tahu kamu nelpon siapa tadi. Kamu pasti bingung dari mana aku tahu tentang ini, kan?" tanyanya, sambil tersenyum.
Kali ini ia menarik tangannya kembali. Menyisakan banyak pertanyaan di kepalaku setelah perlakuannya itu. Rupanya ia mendengar obrolanku dengan mama di telpon tadi, sesaat sebelum akhirnya Sakha datang menghampiriku di kantin. Aku tidak menduga ia mendengar semuanya.
"Kamu gak usah sungkan sama aku, Di. Aku udah banyak repotin kamu selama ini. Setidaknya, biarkan aku ngasih hadiah kecil. Meski aku tahu itu gak bisa membalas semuanya."
Oke Diantha. Dia hanya ingin membalas budi. Tidak lebih dari itu. Hentikan pikiranmu yang berisik. Aku mulai merutuki diri karena berpikiran yang tidak-tidak soal Sakha. Yah, pikiranku salah dan ia tidak akan pernah melakukan apapun seperti yang terlintas dalam bayanganku.
"Diterima ya, Di," imbuhnya, sembari menyodorkan paper bag itu padaku.
Dengan ragu, aku menerima pemberiannya itu. Lagi pula niatnya terlihat tulus, dan aku merasa tidak bisa lagi menolaknya, "Makasih ya. Padahal gak usah repot-repot."
"Itu gak seberapa dibanding kebaikan kamu sama aku, Di. Makasih ya udah jadi orang yang selalu ada untuk aku."
Lagi, ia kembali mengusap puncak kepalaku. Baru kali ini ia melakukannya. Sebelumnya, tidak banyak kontak fisik yang ia lakukan kecuali memang dibutuhkan. Namun apa yang terjadi dengannya hari ini?
"Kamu sakit?" tanyaku spontan. Tiba-tiba saja aku berpikir bahwa ia terkena penyakit yang lebih serius dan dokter mengatakan waktunya tidak lama lagi. Pikiran gilaku itu merasuk begitu saja tanpa permisi.
Ia refleks kembali menarik tangannya dari puncak kepalaku, "Amit-amit, gak mau aku sakit."
Aku terkekeh, sebenarnya menertawakan kekonyolan pikiran ini, "Hari ini kamu beda."
"Kenapa? Kamu gak nyaman, ya? Maaf, Di."
Aku hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Jika bicara soal tidak nyaman, benar. Aku memang tidak nyaman dan merasa begitu canggung karena perilakunya hari ini. Ia tidak seperti biasanya. Seperti seseorang yang berbeda. Tidak seperti Sakha.
"Mau pulang sekarang?"
Aku mengangguk, "Iya, rumahku udah deket kok. Aku bisa jalan. Kamu pulang aja, apa mau balik ke kampus?"
"Iya aku mau ke kampus. Tapi aku pengen anterin kamu dulu sampe rumah, ayo!"