"Ekhem! Lagi main romantis romantisan pak? Bu?"
Cica muncul dari balik gerbang rumahku yang tingginya hampir dua meter itu. Kini, ia berdiri tepat disampingku dengan kedua tangan yang menyilang di dada. Ia menatap Sakha sinis, lalu pandangannya beralih padaku.
"Aku disuruh kesini sama Mama kamu. Katanya kamu mau beli sepatu, tante Dira minta aku nemenin, eh malah mesra-mesraan haram dijalan kayak begini," ucapnya dengan nada tidak suka.
"Mesra-mesraan haram apaan, mulutmu itu!" protesku.
Aku tahu ia haters nomor satunya Sakha. Sejak pertama kali melihat laki-laki itu bersama Jessi dan gengnya, ia mengibarkan bendera kebencian pada Sakha. Ditambah mendengar kabar ikut campurnya Sakha terhadap masalah kami. Kebenciannya semakin menjadi.
Sahabatku itu selalu mengomel ketika aku berinteraksi dengan Sakha. Bahkan aku tidak berani bercerita tentang aku yang merawatnya di rumah sakit waktu itu. Bisa-bisa aku di maki lagi oleh Cica.
"Otakmu itu! Udah tahu Papamu segalak singa kok berani bawa cowok ke rumah?"
Aku mengernyit mendengar ucapan asal bunyinya itu. Sejak kapan papa marah jika aku membawa laki-laki ke rumah? Bahkan Jingga saja sering datang ke rumah dan bermain catur dengan papa. Justru papa orang yang paling excited jika mendengar aku dekat dengan seseorang. Pasti itu akal-akalan Cica untuk mengancam Sakha.
"Mana gak sopan pegang-pegang kepala! Dipikir kucing bisa pegang-pegang seenaknya!" Cica menatap tajam ke arah Sakha sekilas, lalu kembali menatapku.
Kening ku berkerut sembari komat-kamit memberikan isyarat pada sahabatku itu. Berharap ia berhenti bicara sebelum mengeluarkan kata-kata yang lebih tajam lagi. Sejauh ini, Cicalah yang paling jauh. Bahkan kedua orang tuaku tidak pernah mengomel di depan orangnya secara langsung jika memergokiku bersama seorang laki-laki.
"Kalau gitu aku pamit ya, Di..." ucap Sakha yang kini telah menyalakan mesin motornya.
"Awas aja ya kamu sekali lagi mau dianggap kucing sama sembarangan orang, aku potong tangan orangnya!"