TAKDIR

Ahmad Iki Muqimudin
Chapter #1

Chapter 1 Namaku Ucup

Seorang pria, berambut pendek duduk tegak, di depan sebuah kamera. Pria itu tersenyum manis, mengamati sekitar ruangan lalu kembali menatap kamera.

Seorang polisi berseragam duduk di samping kamera, sikut tangannya diletakkan diatas meja, beberapa lembar kertas berada di atas meja.

"Silahkan perkenalkan nama anda," ucap polisi tersebut, sambil menekan tombol rekam pada kamera.

Bibir lelaki tadi mendatar, senyumannya menghilang. "Nama saya Muhamad Yusuf, umur saya 33 tahun."

"Anda bisa mulai menceritakan kejadian tersebut," polisi itu berkata datar, tanpa nada.

Sinar wajahnya meredup, matanya menyiratkan luka.

"Semuanya bermula ketika–"

---

Enam tahun yang lalu

“Woiiii! Dompet gue!! Copet!!”

Orang-orang tersentak, sebagian ikut mengejar, sebagian lagi hanya memandang sambil mengamankan barang bawaannya masing-masing.

Copet itu bernama Muhamad Yusuf, biasa dipanggil Ucup, lahir dari pasangan Sunda Betawi. Emaknya Siti Ikromah orang Betawi tulen, sedangkan ayahnya Jajang asli Bogor meninggal karena sakit ketika Ucup masih dalam kandungan.

Ucup berlari menyebrangi jembatan gantung yang memisahkan dua kampung. Ia tahu persis orang-orang yang mengejarnya tidak akan berani melewati jembatan gantung secara bersamaan.

Ia berbelok, memasuki gang kecil antara perumahan cluster dan perumahan abadi alias pemakaman.

Beberapa menit kemudian, ia berhenti di depan kontrakan kecil ukuran 2x3 meter, yang sengaja ia sewa murah sebagai tempat persembunyian dan penyimpanan barang bukti.

Ia mendorong pintu kayu yang terbuat dari triplek

Kreek…

Suara engselnya yang sudah uzur mungkin sudah berumur, menjerit menyakiti pendengaran.

Ucup langsung merebahkan diri ke atas kasur tipis, ia memejamkan mata, lalu duduk di atas kasur, napasnya masih terengah-engah.

“Akhirnya selamat juga… alhamdulillah ya Allah…”

Kemudian ia tersadar.

“Eh, Astaghfirullah, masa Alhamdulillah."

Ia menepuk jidat.

“Tapi ya gimana, maafin hamba ya Allah, saya hanya mencari sesuap nasi sama lauknya."

Ia membuka masker, rambutnya sedikit gondrong menjuntai ke bahunya.

Setelah mengikat rambut dan menyembunyikannya di balik topi loreng, ia mulai membuka dompet hasil copetan.

“Bismillahirrahmanirrahim…”

Dompet korban yang tadi ia buka perlahan dengan perasaan harap-harap cemas.

Isinya?

Selembar duit lima puluh ribu

Selembar dua ribu

KTP dan kertas yang dilipat bertuliskan surat permohonan cerai.

Lihat selengkapnya