Pagi datang dengan hembusan angin yang membawa air rintik-rintik.
Emak duduk di atas kursi kayu yang sudah berderit ketika ditekan. Matanya kembali memandang pohon jambu warisan suaminya.
"Mak, Ucup berangkat ya." Ucup mencium tangan emak yang tak lagi muda.
Emak mengangguk, mengusap kepala Ucup, matanya berkaca. Tadi malam ia terbangun seperti biasa di sepertiga malam.
Dari cahaya remang lampu minyak di sudut ruangan, Emak melihat Ucup tidur di ruang tengah di atas kasur lantai, depan tv yang sudah lama mati. Anak laki-laki itu tergeletak dalam posisi yang cuma dia sendiri yang mengerti, kedua telapak kakinya menyatu, dengkur pelan terdengar khas, seperti peluit wasit sepakbola.
Emak berdiri lama memandang wajah itu, mengamati.
"Kalau saja bapak lu masih ada, mungkin lu bakal jadi anak yang paling bahagia, maafin emak Jang, kagak bisa nyekolahin lu tinggi-tinggi."
Ucup membuka perlahan, "Astaghfirullah, kirain Ucup siapa... Ah emak bikin kaget aja!"
"Emak ada yang lagi dipengenin?" tanya Ucup, ia bersila dengan mata setengah terpejam.
"Kagak Cup, emak biasa mau tahajud, liat lu ngorok, gua jadi inget–" jawab emak perlahan.
"Inget... Apa Mak?" Sebelah matanya terbuka, lalu tertutup lagi.
"Tidur lagi sono," ujarnya tersenyum.
Emak bangkit melangkah perlahan ke kamar mandi, mengambil wudhu. Air yang dingin membuat kantuknya hilang.
Sajadah merah peninggalan almarhum, ia bentangkan perlahan.
Emak bertakbir perlahan, meminta ampun serta harapan. Air matanya jatuh satu persatu, semua masalah ia adukan di dalam sujud.
"Ya Allah, sepertinya umur hamba sebentar lagi, kepada siapa lagi hamba titipkan anak hamba, kecuali kepada Engkau yang Maha Menjaga.
Suara tangisnya pecah pelan, menyatu dengan heningnya malam.
"Ampuni segala dosa hamba, dosa semua orang yang mencintai hamba." Emak mulai terisak.
Ia bersujud lama. Sangat lama. Sampai-sampai tubuhnya miring ke samping, lalu tertidur di atas sajadah yang masih menyimpan hangat air matanya.
Lantunan azan mulai terdengar, menghiasi langit.
---
"Cup, bangun... sudah subuh." Emak menggoyang-goyang badan Ucup.
"Ucupnya lagi umroh, shalatnya di Mekkah," jawabnya ngasal.
Emak menyilangkan tangan di dada. “Oh gitu… Berarti yang ini cuma jasadnya?”