TAKDIR

Ahmad Iki Muqimudin
Chapter #3

Chapter 3 Bapak

Ucup alias Muhamad Yusuf duduk di depan warung kopi–jembatan merah. Tahun itu sudah ada terminal bubulak yang dibangun supaya penumpang bisa melalui jalur Sindang Barang Jero, yang dikenal sebagai SBJ.

Dulu jembatan merah salah satu pusat perbelanjaan di kota Bogor, mau belanja baju sampai sepatu ada. Mau belanja sarung atau Koko ada, disebelah utaranya ada pasar anyar apabila ingin berbelanja sayur mayur dan buah-buahan.

Ucup duduk dengan kaku, senyumnya menghilang hanya ada tatapan mata yang tajam. Pagi tadi H Marwan kembali mendatangi emak–menagih hutang.

Emak terlihat pucat, ketika tahu H Marwan datang kembali, Ucup mengepalkan tangan. "Emak nganggap gua anak nggak sih?!" batinnya berkata.

Emak pura-pura sakit perut, ketika Ucup bertanya, kenapa H Marwan datang lagi.

"Mungkin, gua harus punya uang, biar bisa bantu bayar hutang." Ucup berkata, mengedarkan pandangan ke pertokoan yang mulai ramai.

Sebuah mobil Pajero memasuki parkiran, dari dalam mobil keluar seorang bapak-bapak paruh baya memakai kemeja putih dibalut jas hitam, celana hitam dan sepatu pantofel yang mengkilap seperti pantulan kaca riben.

Seorang gadis kira-kira, berumur 21 tahun keluar dari pintu sebelahnya, turun lalu menggandeng bapak-bapak tersebut dengan mesra.

Ucup memperhatikan, "Itu anaknya bukan, kok akrab banget?" Ucup berkata dalam hati.

Terdengar panggilan yang diucapkan gadis itu, "Om, Alya mau ganti ponsel, temenin ya."

"Dasar, kakek-kakek tua bangka, yang kayak gini pasti kagak pernah bayar zakat." Ucup pun meminum kopinya sekaligus, lalu bangun mengikuti dua pasangan yang sedang saling merayu.

Dadanya bergetar dan lehernya merinding, setiap kali suara gadis itu terdengar, "Om, ponsel Alya ganti iPhone ya, yang seri 13 pro."

"Boleh sayang, apa sih yang nggak om turutin. Asal–" Bapak itu menjawab sambil mengelus punggung gadis tersebut. Gadis itu hanya tertawa kecil.

Dari arah berlawanan datang sekelompok anak SMK, mereka berjalan sambil saling mendorong, bercanda.

"Pas amat," lirihnya, Ucup mempercepat langkahnya, mendekati pasangan tersebut.

Tepat ketika mereka semua berpapasan, seorang siswa mendorong temannya, sampai temannya menyenggol gadis tersebut sampai terjatuh.

BRAAK

Tangan Ucup segera mengambil ponsel dan dompet bapak tersebut, lalu mengantonginya tanpa ada seorang pun yang melihatnya.

Lihat selengkapnya