TAKDIR

Ahmad Iki Muqimudin
Chapter #4

Chapter 4 Kawan Baru

"Satu juta, dua juta, tiga juta...lima juta lima ratus lima puluh ribu." Ucup menghitung uang hasil copetannya di kontrakan.

Ia duduk diatas kasur tipis, memegang lututnya, "Hutang emak ke H Marwan berapa ya? Nggak mungkin kalau sampai puluhan juta."

Ia melemparkan dompet-dompet kosong ke dalam koper lalu melangkah keluar.

---

Ucup sedang berjalan pulang, ketika telinganya mendengar keramaian.

"Bang maaf, itu rame-rame ada apa?" tanya Ucup kepada seorang tukang baso yang lewat.

"Ada pasar dadakan di sana," jawab si tukang baso sambil menunjuk ke sebuah gang, "Saya juga mau ke sana, hayu bareng."

Ucup tersenyum dan mengangguk, "Nyari tambahan ah," batinnya.

---

Emak duduk di atas ranjang kayu yang suka berderit, saking tuanya. Tangannya memegang dada, mukanya menyeringai.

"Dada gua sesek amat ya, tidurin bentar, siapa tau ilang ini sesek," lirihnya.

Emak pun berbaring, matanya melihat lampu di atas plafon yang menghitam. Ia memejamkan mata tepat ketika kenangan manis itu kembali.

---

"Bang–" panggil Ikromah.

Jajang menoleh, "Iya Neng."

"M-mmm, beneran Minggu depan... Abang mau ngelamar aye?" Muka Ikromah memerah, ia mengalihkan pandangan, memperhatikan gerobak soto yang terpajang di depan mereka.

Jajang tersenyum, "Heeh Neng, Abang mau buktiin bahwa Abang serius."

"K-kalo babeh kagak setuju?"

Jajang melihat ke arah dua burung yang sedang bercekrama, "Neng, Abang percaya pisan yang namanya jodoh...Kalo kita berdua jodoh, bapak Neng pasti nggak akan nolak."

Dari kejauhan Babeh Jai berjalan menuju arah mereka, "Omah, pulang!" teriaknya.

Ikromah tersentak dan langsung berlari menghampiri bapaknya, "Iya beh, Omah pulang."

Babeh Jai mendekati Jajang, "Hey tukang soto, lu kasih anak gua apaan?" bentaknya.

Jajang melongo, "M-maksudnya Beh?"

Mata Babeh Jai melotot, "Awas lu main-main, gua tunggu!" Lalu berbalik pulang.

Lihat selengkapnya