Emak bangun dari tidurnya, dadanya sedikit lega setelah tadi hampir setengah hari ia tertidur.
Emak berjalan perlahan menuju dapur, perutnya perih–kosong dari pagi, ia berniat menggoreng telur untuk menghilangkan sedikit rasa laparnya.
"Assalamualaikum, Mak. Ucup pulang," teriakan salam terdengar dari luar.
"Anakku sudah pulang," lirihnya. Emak berbalik menuju ruang depan.
"Cup, lu udah balik?" senyum Emak mengembang, mata Emak melirik ke sebelah kanan Ucup. "Ini siape Cup?" Tunjuk Emak.
Ucup mengerutkan dahi, "Siapa Mak?... Emak jangan nakut-nakutin, ah!" Ucup menengok perlahan ke belakang.
"Astaghfirullah, sory Bang, gua lupa." Ucup meringis melihat muka Putra yang sangar. Terlihat wajahnya menyeringai.
"Dasar lu Cup, masih muda sudah pelupa," tegur Emak. "Gua laper, lu bawa makanan kagak? Gua lagi males pisan masak."
Ucup menggaruk kepalanya, "Ada sih Mak," jawab Ucup sambil mengangkat kresek hitam. "Cuman– nih Emak liat sendiri." Menyerahkan kresek hitam kepada mak.
Emak tertawa terbahak-bahak, "Ini mah biskuit orok, lu nemu dimana?"
"Tadi ketemuan Bu Hamidah di posyandu." Muka Ucup memerah–malu.
"Lu beli apa kek, buat temen lu. Biskuit ini buat gua aja, celupin kopi enak."
"Mari bang, kita ngopi di dalem," ajak Ucup.
Putra berjalan mengikuti Ucup setelah mencium tangan Emak.
"Uhuk... Uhuk..." Emak terbatuk kencang, tangannya menahan dada.
"Emak nggak apa-apa?" Ucup menghampiri Emak.
Tangan Emak memegang lengan Ucup, menarik napas perlahan, "Nggak apa-apa Cup, tenggorokan Emak gatel," jawabnya pelan.
Ucup memandang Emak, tangannya terkepal–bergetar pelan.
"Dah, Emak nggak apa-apa kok, mending lu bikin kopi."
Ucup mengangguk, masuk ke dalam rumah.
---
Emak duduk di ruang depan di atas kursi kayu yang berumur sama tua, ia mencelupkan sepotong biskuit ke dalam kopi lalu mengemutnya.
Ucup menyalakan sebatang rokok, "Sory bang, rumahnya kaya gini."
Putra melihat sekeliling rumah, "Iya jelek Cup–"
"Busyet dah bang, meni nggak ada basa basinya," Ucup berkata sambil manyun.
"Belum juga beres gua ngomong," sahut Putra, "Maksud gua rumah lu memang jelek, nah itu atap bolong-bolong, cuman–"
"Parah lu bang, bener-bener ngehina lu bang," potong Ucup.
"Iya... Iya, rumah lu bagus, ini lantai marmer, lampu kristal, ini kopi robusta," seru Putra sarkas.
Emak tertawa mendengar celetukan Putra, "Dah, jangan berteman... Eh maksudnya jangan bertengkar, Emak mau cerita Cup," Emak menghela napas, memandang lampu 5 Watt yang di penuhi sarang laba-laba.
Suara tawa terhenti, mata Emak berkaca-kaca,
"Emak mau cerita tentang bapak lu, Cup."
Ucup menoleh, kepalanya tertunduk. Putra menghembuskan asap rokok, bersandar di sofa butut.
"Bapak lu, orang baik."
Setetes air mata mengalir di pipi Mak, pikirannya melayang ke kejadian 40 tahun yang lalu.
---
Setelah menikah Kang Jajang membawaku ke Bogor, di daerah Darmaga, kami mulai hidup sederhana dengan membuka warung soto tetap, bukan keliling lagi. Kadang rame, kadang sepi. Saya bantu cuci piring, bersihin meja.