Mak!! Bang, bantuin!” Ucup panik
Putra sigap mengangkat emak ke dipan.
“Kayanya Mak harus dibawa ke dokter,” ucap Putra.
“Gua ada yang, tapi–” suara Ucup pecah.
Putra berbisik, “Yang penting, kita bawa dulu!"
Emak menggeleng pelan, ia menggerang.
"Jangan duit nyopet, Cup," bisik Emak. "Gua tau, lu dapat duit gede darimana... kali ini jangan! Biar gua matinya halal."
Putra mengodok kantong celananya, "Mak, saya punya uang halal, gaji dari masjid."
Ucup menatap putra, dibalas anggukan dari Putra.
Akhirnya mereka membawa Emak ke puskesmas.
Di depan pintu, Emak memegang tangan Ucup.
“Cup… pulang ja…”
“Mak, udah di sini. Periksa dulu ya…”
“Pulang, Cup… Mak pengen melepas napas terakhir di rumah.”
Kata itu menusuk jantung Ucup.
“Mak…” suaranya pecah. “Ucup janji mau berubah jadi anak baik, nggak bakal nyopet lagi. Tapi Mak periksa dulu…”
Emak menggeleng.
“Pulang, Cup. Lu kudu nurut sama gua.”
Air mata Ucup jatuh.
Putra menunduk, ikut terharu.
Mereka pun pulang.
---
Beberapa menit kemudian, Emak tertidur. Napasnya berat tapi stabil. Ucup dan Putra duduk di teras, diam.
“Gua datang di hari yang salah sepertinya…” kata Putra.
“Hidup nggak pernah salah Bang, yang salah cuma pilihan kita menjalaninya." Ucup menatap jauh.
Setelah lama diam, Putra bertanya,
“Lu nyopet dari umur berapa?”
Ucup menoleh, memandang tajam, "Pertanyaan aneh Bang, lu kira nyopet ada jenjang karirnya."
“Maksud gua, lu kagak nyari kerja gitu." Putra meralat pertanyaannya.