TAKDIR

Ahmad Iki Muqimudin
Chapter #7

Rumah Yang Tergadaikan

Rumah H Dahlan terletak di tengah-tengah kampung, tepat di sebelah masjid Al Mustaqim. Kesanalah Ucup melangkah ditemani Putra.

"Bang, kira-kira berapa hutang Emak ke H Dahlan ya?" Mata Ucup mendelik ke atas, sebelah tangannya menopang dagu.

Putra hanya mengangkat bahu, "Emak yang ngutang, kenapa gua yang ditanya?" jawabnya asal.

Ucup menghela napas, "Itu yang berat, gua denger-denger dari kuliah subuh bulan ramadhan tahun lalu di masjid, katanya hutang bakal ngalangin pintu surga. Itu bener nggak?"

Putra menundukkan kepala, matanya terpejam, "Utang gua seabrek, Ya Allah, berarti–" lirihnya dalam hati.

Ucup menoleh, "Yeah! ditanya malah bengong. Ayam tetangga mati kemaren noh," tegurnya.

"Karena bengong?" tanya Putra, lalu mendekap tangannya ke dada–kedinginan.

Ucup tertawa terbahak-bahak, "Bukan bang, ya karena pengen makan ayam, hahaha!"

Putra tertawa, "Ah lu, ada-ada aja. Gua lagi mikirin ucapan lu Cup, gua banyak utang, banyak salah sama orang, sama saudara," ucapnya pelan.

Ucup memandang sedih, "Apalagi gua bang, orang-orang yang gua copet–, puluhan orang."

Putra menepuk bahu Ucup, "Cup, nanti aja mikirnya, siapa tahu bisa nego."

Mereka berdua tertawa, "Dah sampe, Abang temenin Ucup ya."

"Oke."

"Assalamualaikum, Pak Haji, ini Ucup." Teriaknya.

"Waalaikumsalam, masuk Cup," jawab suara dari dalam.

Mereka pun masuk kedalam rumah H Dahlan. Beliau sedang duduk diruang tamu, "Duduk Cup."

Ucup duduk diikuti Putra, "Ucup kesini mau nanyain hutang Emak, maaf Pak Haji kalau selama ini, Ucup salah sangka sama Pak Haji."

H Dahlan menatap Ucup, "Bapak menghargai Emak Omah yang ingin merahasiakan dari ente Cup, Bapak juga bukan orang yang kaya triliunan, Bapak ada butuhnya."

Ucup mengangguk, "Jadi berapa hutang Emak?"

H Dahlan menghela napas, "Dulu gua pinjeminnya emas sekitar 20 gram, diitung harga sekarang 60 jutaan."

Lihat selengkapnya