TAKDIR

Ahmad Iki Muqimudin
Chapter #8

Perjalanan Dimulai

Ucup memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam tasnya, nanti siang ia akan ke kosannya terlebih dahulu mengambil koper hajinya. Ia duduk di samping ranjang reyot, tangannya memegang selembar foto Emak dan Bapaknya waktu masih muda dalam pakaian pengantin.

"Bapak gua ternyata ganteng, pantes saja gua juga ganteng," lirihnya sambil tertawa kecil.

Ucup membuka dompetnya, "Mak, kayaknya Ucup harus pergi dari rumah ini, walaupun Emak sudah beda alam, semoga Emak bisa mendoakan Ucup dari sana. Biar Ucup bisa–" Ucup terisak, "B-biar Ucup bisa hidup lebih baik, walau Emak dan juga Bapak sudah nggak ada." Tangannya memasukan foto itu ke dalam dompet.

Ucup menghapus air matanya, menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu menghembuskannya, "Oke, sekarang gua sudah siap." Ia menggendong tas punggungnya, melihat sekeliling lalu melangkah keluar.

Putra sudah berdiri di teras, ia menatap Ucup yang keluar dari pintu depan menjinjing sepatu.

"Sudah beres Cup?" Putra bertanya dengan pelan.

Ucup mengangguk sambil memakai sepatunya.

Mereka berdua berdiri menatap rumah, lampu 5 Watt yang sudah kedap kedip, keramik yang sebagian sudah mulai retak, juga tiang yang berlubang oleh serangga.

"Sebelum berangkat, mari kita berdoa Cup, Bismillahirrahmanirrahim."

Ucup mengikuti ucapan putra, lalu berbalik badan dengan bahu yang bergetar.

Mereka melangkah dengan pelan tanpa berani menengok.

---

"Lu bener Cup, mau pergi aja?" tanya H Dahlan, menerima kunci rumah dari Ucup.

"Bener, Pak Haji. Ucup nggak kuat, kalau tinggal di rumah, Emak keinget Bae," ucapnya sambil menghela napas.

H Dahlan hanya bisa menatap mata Ucup, lalu mengangguk, "Kalau memang sudah yakin, Bapak cuma bisa doain aja."

"Emang lu mau pergi kemana, Cup?"

"Kemana aja Pak Haji, yang penting nyampe... sama ini Pak Haji, tabungan Ucup buat tahlil Emak, Ucup titip ke Pak Haji." Memberikan sebuah amplop putih yang tebal.

H menatap lagi, menghela napas, "Lu beneran yakin, lu nggak mau disini aja, kerja sama Bapak gitu."

Ucup terdiam lalu menggeleng, "Nanti saja Pak Haji, kalau Ucup sudah balik lagi ke kampung ini, Ucup pamit Pak Haji," Ucup mencium tangan H Dahlan, diikuti Putra yang daritadi hanya diam.

"Hati-hati Cup, kalau sudah mau pulang, pulang aja, temuin Bapak."

Putra dan Ucup berbalik melangkah setelah mengucapkan salam.

Perjalanan Ucup sudah dimulai, ia tidak sadar bahwa perjalanan ini akan bertabrakan dengan garis takdir seorang gadis, takdir yang sudah tercatat di langit.

Seorang gadis yang sekarang terjebak dalam hiruk pikuk kota metropolitan.

---

Di sudut kota jakarta, seorang gadis sedang berdiri di dalam ruangan club yang hingar bingar oleh musik, ia berdiri dengan canggung.

"MIRA!" Manajer club yang bernama Siswanto berteriak memanggil gadis itu.

Mira pun bergegas menghampiri, "Iya pak."

Siswanto menatap Mira dari ujung kepala sampai bawah, lalu mengangguk-angguk, "Kamu temenin tamu, di ruang 12C, lantai dua."

Mira mengangguk tapi dahinya berkerut.

Siswanto menoleh ke seorang wanita yang sedang duduk di depan bartender. "Wati, ajarin dulu anak ini, sekalian temenin tamu. Mereka minta dua orang yang nemenin."

Wati menenggak gelas kecil di depannya, lalu berdiri, "Oke Bos," jawabnya.

"Ayo, cah ayu kita tugas." Wati menarik tangan Mira naik ke lantai dua.

Lihat selengkapnya